Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juni 2017

Menjaga-Mu


Selain kuliah, rutinitas yang ku lakukan setiap hari adalah bertemu dengan kawanan pemabuk serta pemerkosa, yang terlihat tiada hari tanpa ritual tersebut.

Pemandangan yang memiriskan setiap hari terlihat di sekitar kompleks itu.

Sampai tiba di suatu hari ketika aku mulai berjalan ke arah rumah tiba-tiba saja aku melihat perempuan berpakaian seksi melintas di daerah mereka.

Seorang lelaki mendekati perempuan tersebut kemudian diikuti oleh sekelompok lelaki lainnya yang pada akhirnya perempuan itu di bawa ke sebuah tempat.

Perempuan tersebut telah di perkosa “pikirku”.

Entah apa yang ku rasakan saat itu.
marah, sedih, takut, atau ketiganya.

Dan tinggal aku sendiri disini tanpa siapapun, untuk kembali ke kampus sudah tidak bisa sebab jaraknya lumayan jauh, untuk pergi ke rumah temanpun begitu.

Akankah nasibku akan sama seperti perempuan yang kulihat tadi?
Beberapa menit ku habiskan hanya dengan berdiri, berpikir, pilihan mana yang akan aku pilih.

“Allah memerintahkan menjaga kehormatan wanita dengan menutup aurat, maka Insya Allah Allah pun akan menjaganya” tetiba ada yang berbisik di telingaku.

Bismillah dengan keyakinan ini aku melewati sekelompok preman itu dan yang terjadi adalah ..
Mereka semua tiba-tiba menunduk melihatku.

Rasa penasaran memuncak, mengapa mereka tiba-tiba menunduk? Aku hanya perempuan biasa,  yang hanya belajar menyempurnakan keislaman dengan berhijab syar’i.

Terlepas dari jangkauan mereka, aku segera ke kantor polisi dan melaporkan mereka.

Aku masih penasaran, penasaran dengan mereka yang tak menggangguku tempo hari, maka ku beranikan diri untuk ke kantor polisi dan bertanya akan hal ini.

Kau tahu apa yang mereka katakan?

Salah satu dari mereka menjawab

Kami takut denganmu sebab ada pria berbadan besar berbaju putih yang mengawalmu.

Allahu Akbar …


Benarlah kalimat ini “Allah memerintahkan wanita untuk menjaga kehormatannya maka niscaya Allah akan menjaganya”.

Kamis, 05 Januari 2017

"Cerita Cinta"

Image By Google

Andai … aku telah dewasa …
Usiaku berubah …
Dan sepertinya semua akan berubah
Dari biasa saja menjadi ganteng yang luar biasa
Dari cabi menjadi tidak cabi pastinya
Dan dari jomblo menjadi yah you knowlah …
Hmm … sebentar lagi tahun depan; eh besok ding dan otomatis usiaku berubah dan beberapa bulan lagi seragamku pun berubah.
Putih Biru

***

“Teng …; Teng …; Teng …
Bel tanda masuk berbunyi dan guru yang sangat tidak aku tunggu akan tiba tepat pada waktunya. Beliau sangat baik hati; tidak sombong; dan rajin menabung pula dan tentu saja akan menerangkan kembali si SIN; COS; dan TANGEN beserta kawan-kawannya yang membuat saya bertemu bidadari di alam mimpi.

“Pagi anak-anak … hari ini bapak akan memperkenalkan murid baru yang bernama Sandi Arta Mawarni. Tiba-tiba saja mata saya tertuju pada sumber suara.
“eits …; ada murid baru rupanya …”
“Hmm … jika di lihat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ni anak cantik juga; pakai kacamata lagi; suka banget dengan cewek berkacamata. Kayak ada manis-manisnya gitu”.
Deketin ah …
“bagaimana teknik deketinnya yah?”

“ Sandi kamu duduk di sana”
Eh  bapak nunjuk bangku di sebelahku … Emang kosong sih penghuninya sudah pindah beberapa hari lalu. Bisik batinku.

“Hai; boleh kenalan gak?”
“udah tahu kan nama saya; baru beberapa menit yang lalu di sebut sama bapak”. Ujarnya agak ketus.
“Ya ampuuun ni cewek judes amat yak …; tapi dia bener juga sih tadi barusan di sebut; tiba tiba amnesiaku kambuh”.

***

Jam istirahat
“Ku lihat dia sedang membaca buku judulnya kumpulan sajak. Oh dia suka puisi; bagaimana kalau ku buatkan puisi saja;” bisikku.

Tiba-tiba saja ku menarik tangan temanku yang kebetulan lewat di hadapanku dan juga kebetulan memegang buku yang langsung ku robek selembar kertas dan menulisnya setelah itu menyuruh temanku untuk memberikan padanya.

Hidupku penuh kata kebetulan hihihi …

Kau tahu Sandi
Di bolak-balikpun kata rindu tak akan membentuk namamu tapi kata rindu akan selalu tertuju padamu.
Dari Gilang

“yes; dia membacanya. Aku pura-pura masuk kelas dan duduk deh di bangku”.
“Hai Gil …; namamu Gilang kan?” sahutnya.
“Eh kok tahu namaku Gilang?”
“Itu tertulis di dadamu ..”
“Oh iya hehehe”
“Kamu suka puisi ya?” tanyaku.
“Iya; suka banget”
Semenjak kejadian itu kita semakin dekat dan semakin intens bertemu.

Sandi … sejak pertama kali kita bertemu
Aku telah jatuh hati padamu
Bayangmu selalu hadir di hadapanku
Senyummu mengalahkan indahnya sang purnama

Terus?
Beliin … kuota dulu baru aku terusin …
“ih … kamu”
Oke cantik ini serius

Gerimis yang tak kelihatan
Angin memahatkan tiga patah kata di kelopak mawar

Kamu
Kamu
Kamu

Kamu tahu kenapa aku mencintaimu?
“Kenapa?”
Karena hanya kamu yang mau ama aku

“hahaha… nah kalimat terakhir ini saya suka banget”.
“idihhhh … ketawa … tapi tambah manis kok”.

Gilaaang … Banguuun …
Ya ampuuun… Cuma mimpi …










Selasa, 27 Desember 2016

"Kancil dan Harimau"

Image by Google
Di sebuah hutan belantara hiduplah beberapa ekor harimau.

‘Howaaa … pagi ini aku lapar sekali. Perutku sangat keroncongan. Persediaan makanan masih ada tidak?”

“Tunggu. Aku lihat dulu” kata harimau yang lain.
“Wah sudah habis kawan. Bagaimana ini? Aku juga sudah sangat lapar …”
“Tunggu aku ada ide. Bagaimana kalau kita ke hutan seberang?”
“saya dengar-dengar di sana banyak persediaan makanan”.
“Baik. Kapan kita akan ke sana?”

“Besok …!”
“Ya … sekaranglah.”
Para harimau yang kelaparanpun berangkat ke hutan seberang untuk mencari makan.

***
Setibanya di hutan.
“Eh kawan lihat itu. Ada seekor kancil yang sedang meminum air. Itu bagianku yah karena aku yang pertama kali melihatnya.
Dan tiba-tiba saja salah satu harimau sudah berlari menuju kancil.

Kancil kaget dan secara spontan membalikkan badannya.
“waduh ada harimau ..”
Kancil pun berlari dengan sekuat tenaga dan pada akhirnya tiba di sebuah goa. Ia pun masuk dan terkejut dengan keadaan di sekitar goa tersebut karena di dalam goa terdapat banyak tulang belulang yang berserakan.
“aduh apa ini. Banyak sekali tulang belulang …”

Tiba-tiba saja terdengar suara yang menggelegar dari dalam goa serupa suara raksasa.
“Suara apa itu?” kata kancil
Kancil pun mencari sumber suara tersebut tapi pada akhirnya tidak menemukan apapun di dalam goa itu.

Ia mencoba berteriak kembali
“Siapa di sana?”
Dan kembali seperti suara raksasa kembali menggema …
“Wah. goa ini bisa memantulkan suara.”

Kemudian tanpa kancil sadari tiba-tiba terdengar suara dari luar goa.
“Hei Kancil keluarlah kau. Kami tahu kau ada di dalam. Kalau kau tidak keluar kami akan masuk dan langsung memangsamu. Hahaha …”

“Aduh bagaimana ini. Bagaimana kalau aku berpura-pura saja jadi raksasa goa. Suara ku kan bisa berubah menjadi suara raksasa jika berteriak di dalam goa ini. Aku katakan saja

“Hei harimau pergi kau dari sini! Kalau tidak akan ku mangsa kau”
 Dengan membuang salah satu tulang keluar goa. Akal licik kancil mulai bereaksi.
“Hei kancil keluarlah!!!”

“Ah … tidak. Aku tidak ingin membohongi mereka. Itu tidak baik”.kancil mulai tersadar akan akal liciknya.

***
Tiba-tiba kancil keluar dari goa.
“Wahai para harimau. Janganlah memakan aku. aku mohon. aku akan membantumu mencari makanan di hutan ini.”

“Ha … apa katamu? mana ada makanan? Kaulah makanan kami.”
Pada saat itu salah satu harimau akan melompat ke arah kancil dan tiba-tiba harimau yang lain menghalanginya.

“Jangan kawan. Benar kata kancil kita jangan memangsanya. Ia sudah keluar dari goa dan telah berani berkata jujur dengan kita. Jadi lebih baik kita mengikuti apa yang di katakan oleh Kancil.”

Pada akhirnya mereka pun bersahabat dan mencari makan bersama-sama.



Sabtu, 26 November 2016

"Asaku"

By : Google

Kini aku datang dengan selaksa asa
Menemuimu tidak hanya dengan sejumput angan
Sebab takdir yang membersamai kita

Tahukah kau tak akan ada pelangi tanpa sebuah I?
Tak akan ada rindu tanpa sebuah R?
Tak akan ada Ramadhan tanpa orang beriman?
Tentunya aku masih merangkak menuju  kata orang beriman

Bulan seribu bulan sebentar lagi akan menyapa. Suasana hangat dan tentunya menyenangkan di temani oleh riuhnya anak-anak bermain petasan adalah sambutan teristimewa untuk menyambutnya.

“Alya Insya Allah pukul 04.00 nanti  kita sudah bangun untuk menyambut waktu sahur dan esoknya Insya Allah kita sudah memulai puasa dan hari ini Mama mau kamu harus belajar memasak yah minimlah memasak masakan ringan- ringan dululah. Dan  Mama hanya manduin kamu”.

“oke. Mama mau Alya masak apa?”
“kita mulai dari pembuatan Pallu Butung. Ingat ya bahan-bahannya itu adalah pisang. Gula pasir. Santan dan terigu. Ayo sana ambil catatan kalau lupa bagaimana? Atau kalau Mama tidak ada bagaimana coba?

“oke Mama cantik. Tunggu ya…”

Sesaat kemudian.

“aku dataaangg… .”
“cepetan  buka bukunya..”
“oke siaap”

“pertama-tama pisangnya di kukus dulu.  Lalu kalau pisangnya sudah matang yang kedua adalah kita buat kuahnya. Kuahnya itu terbuat dari campuran gula pasir. Santan dan terigu. Nah ambil sebuah mangkok dan sendok lalu campurkan santan. Gula pasir lalu terigu secukupnya. Aduk sampai mendidih. Setelah itu angkat pisang dari tempat kukusan. kulit pisangnya di kupas di belah menjadi beberapa bagian lalu di taruh di piring. Setelah itu ambil kuahnya lalu campur dengan pisang secukupnya…”

“oke.. Ma.. jadi..(sambil menunjukkan ke Mama)”
“Iya bagus hasilnya dan pasti rasanya enak kan ada Mama manduin kamu..”
“ih.. Mama..”
“Jangan ngambek nanti cantiknya hilang…”

Allahu Akbar Allahu Akbar.. Allahu Akbar Allahu Akbar.
“Astaghfirullah… Mama… Ya Allah.. Cuma mimpi”

“Aku meraba kertasku yang tiba-tiba basah oleh air mata dan mencoba untuk menghilangkan air mata itu dari kertas Alhamdulillah masih terbaca puisi yang aku tulis beberapa menit yang lalu.

Antara aku dan ibuku tidak ada yang luar istimewa
Selain bahwa aku hanya bisa melihat sahabatku bercengkrama dengan seseorang yang bernama ibu tapi bukan ibuku.

Antara aku dan ibu tidak ada yang istimewa
Selain bahwa mulai Ramadhan ini aku hanya bisa melihatnya pada sebuah album kenangan.

Kau tahu wahai Ramadhan?
Kini dirimu hadir tanpa sosok ibu bersamaku lagi
Sosok yang mengajariku bagaimana menyambutmu dengan hidangan pelepas dahaga.

Asaku
Aku tak ingin aku dan dirimu  bagai ombak yang datang sebentar lalu pergi
Tapi ini hanya sekadar Asa
Hanya sekedar  Asa
Seperti Asaku pada ibu

Note:

Pallu Butung  : Salah satu Nama Makanan di Makassar

Rabu, 23 November 2016

"Jiwa Seorang Musikus"




Ia seorang musikus berusia 45 tahun sedang menderita insomnia kronis.

Ketika memasuki ruangan analis ia terus menerus memegang hidungnya sambil mengeluarkan suara 
seperti terompet.

Ketika memasuki ruangan perawatan ia menyapa “selamat pagi” kepada analis dengan  riang gembira dan bersuara musik.

Kemudian sambil bersenandung dengan diam-diam ia melepaskan jaketnya dan menempatkan pada salah satu kursi.

Ia melangkah ke depan. Duduk dan masih sambil bersenandung dengan diam-diam ia melepaskan jaketnya. uang di saku serta cincin di jarinya.

Membungkuk membuka sepatunya dan menempatkan sepatu-sepatu itu berjejeran dengan rapi.

Mengambil sebuah foto mencium dan menempatkan foto tersebut ke dadanya.

Dan dengan bernafas lega ia berbaring di atas kasur ruang perawatan. Membalikkan sisi badannya. Perlahan.

Rasa penasaranku muncul. Aku menghampirinya dan secara perlahan-lahan mengambil foto yang berada di tangannya. Dan yang terlihat adalah foto seorang anak berusia sekitar 5 tahun tengah memeluk ibunya.

Beberapa menit aku terdiam dan akhirnya menyadari bahwa musikus ini ingin memerankan keinginannya untuk tidur dengan ibunya. Secara spontan aku mengambil catatan dari salah seorang psikiater dan terlihat:

Nama               : Muhammad Agus
Usia                 : 45 tahun
Mengidap penyakit insomnia kronis sejak berusia 40 tahun.

Aku mendekatinya dan melihat matanya. Mata yang di penuhi oleh kehampaan dan kesedihan.
Aku ingin memulai komunikasi dari hati ke hati
Lalu tiba-tiba..

“Oh… bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku…”

Kalimat dengan nada yang indah terlontar dari seorang musikus.
Tetiba air mataku menetes.


Minggu, 09 Oktober 2016

"Menyimpangkah Aku?"


Kehidupan tanpa kebebasan adalah ibarat tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa pikiran adalah ibarat jiwa yang kebingungan. kehidupan, kebebasan, dan pikiran adalah tiga hal terpadu yang abadi dan tak pernah mati.

Aku mencintai kebebasan, dan cintaku akan kebebasan sejati bertambah dengan bertambahnya pengetahuanku tentang penyerahan diri dari orang-orang kepada perbudakan.

Aku seakan di perbudak oleh kehidupan, menjalani aktivitas sehari-hari dengan menjadi hamba dari tulang punggung keluarga katanya.

Seperti teman-temanku dan masyarakat pada umumnya mereka memiliki sebutan  kakak, adik atau apalah yang sejenis dengan itu.

Tertindas, terkungkung, terpenjara, telah menjadi bagian dalam kamus hidupku.

Ayahkulah yang mengajari semua kata itu sedangkan ibu, "Ah, tiba-tiba naluri kelaki-lakianku muncul dan ingin mengatakan cinta kepadanya, layaknya seorang lelaki kepada wanita".

Bagiku, ini adalah persoalan yang sederhana seperti geometri aku menarik arah garis dari sebuah sudut ke titik berikutnya.

tidak ada yang berbelok akan garis kehidupanku.

tapi menurut mereka? ah abaikan saja. toh ini kehidupanku.

Sabtu, 24 September 2016

Fitrahnya Sebuah Rasa


“Hari ini hari jum’at Al, hari dimana segala do’a di ijabah oleh-Nya, dan saya berdo’a semoga kita semua cepat nikah dan  terhindar dari fitnah..”

“Aamiin…”kataku.

"Kau tahu Al… ini adalah sebuah aib bagiku, yang hanya ku ceritakan padamu, dulu ada seorang lelaki yang begitu perhatian denganku, apapun yang saya pinta pasti ia kabulkan. Entah itu saya meminta tolong kepadanya di bawakan sesuatu ke rumah… maka dengan sigap dan secepat kilat barang itu sudah sampai ke rumah".

"Apapun yang saya torehkan di Facebook ia like dan berkomentar bahkan ia mencari perhatian saya dengan memposting kegiatan dakwahnya dan memposting hal-hal yang berkaitan dengan dakwah. Sampai pada akhirnya ia menikah dengan perempuan lain".

"Kita boleh berencana Allahlah yang menentukan"

"Kau tahu, perempuan itu mudah sekali tersanjung, bahkan mungkin hanya sebuah like dari dia. Perempuan ini pun akan memikirkannya dan sampai akhirnya iapun berpikir bahwa lelaki ini suka dengannya".

"Padahal kau tahu sebagian lelaki itu biasa saja dan mengangggap kebaikan yang mereka lakukan itu adalah hal yang lumrah, bahkan sangat biasa".

"Jadi, pintar-pintarlah dirimu menjaga hati Al.."

“Hati-hati menjaga hati, ada banyak loh kisah akhwat yang jatuh hati lewat sosial media”

Pertama, mereka saling kenal dan  ngobrol lewat inbox sekian lama sampai akhirnya ikhwan ini meminta foto si akhwat, akhwatpun memperlihatkan fotonya dan pada akhirnya kau tahu apa yang terjadi? Setelah melihat foto akhwat itu, ikhwan ini kemudian tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar. Tega banget ya…

Kedua, mereka berkenalan di tempat yang sama FB. Lagi-lagi beda kota. Merekapun bersepakat saling bertemu, ikhwan mengirim uang transport ke akhwat. Katanya kalau sudah sampai, maka mereka akan menikah di kota tempat tinggal ikhwan, akhwat inipun dengan berani menemui yang katanya “belahan jiwanya”. Tapi sesampainya di sana, si akhwat tidak menemui ikhwan ini. Kasihan akhwatnya.

Ketiga, saya mendengar cerita dari seorang kakak, katanya ada beberapa lelaki yang emang serius menikahi kekasih yang walaupun beda kota loh, mudah-mudahan termasuk kamu Al…

“Hmm..terakhir yang ingin ku katakan adalah, laki-laki itu tidak hanya mementingkan rasa, tapi mereka juga mempertimbangkan segala sesuatunya, dan pasti keluarganyapun ikut campur, mempertimbangkan segala sesuatunya ya, termasuk beda kota. Butuh biaya tak sedikit Al…, saya tau perasaan itu datangnya dari Allah dan itu manusiawi.. tapi..

“ saya nggak tau, yang saya tahu saat ini saya menyayanginya. Kau pasti tahu bagaimana perasaan 
perempuan ketika jatuh cinta Nad…”










Selasa, 30 Agustus 2016

"Cintaku Tak Mengenal Kata Mati"

“Suaminya meninggal, dia mulai memakai pakaian suami yang tentu saja tidak pantas untuknya. Dia mulai mengerjakan kebiasaan-kebiasaan mendiang suaminya ketika hidup, seperti merokok dengan cangklang walaupun para tetangga telah mengatakan tingkahnya ini agak aneh dan harus di hentikan. Dia terus saja menjadi pria-wanita bahkan dia tidak terganggu oleh kerancuan identitas seksualnya”.

QZ 7531 akan berangkat sekitar 20 menit lagi, di temani sebuah koper. Aku duduk di baris ke tujuh dari jejeran bangku di pesawat.

Tujuh, entah mengapa aku menyukai angka ini, terlahir tepat di hari ke tujuh, langit berlapis tujuh, dan tentunya tepat tanggal tujuh yang bertepatan dengan hari kelahiranku Ayahku telah berada di pangkuan-Nya. Yah, mungkin karena alasan inilah aku menyukai angka tujuh.

Ayah.

Tetiba aku mengingatnya, dan tentunya mengingat perkataan para pengagum keluarga kami. Menurutku, rasa sayang mereka berlebihan terhadap ayahku, aku tahu ayahku pemabuk, pemakai narkoba. Tapi, sekali lagi aku tidak suka jika kalian menunjukkan kasih sayang kepada beliau dengan perkataan yang hanya menyakitiku.

Terlahir dari dua aliran yang berbeda, ibu yang taat dan ayah yang ah…., tapi, bagaimanapun dia adalah ayahku, ayahku, dan ayahku. Ayah yang sangat hebat dan tidak akan pernah tergantikan sampai namaku tertulis tepat di sebuah nisan.

Ingat dengan filsafat pasir? Kita seharusnya belajar pada filsafat pasir yang tak pernah menyimpan dendam pada setiap kaki yang menginjaknya. (Tetiba perkataan Ayah muncul dalam benakku).

Aku tidak akan pernah sekalipun akan membagi kasih sayangku, bahkan niatpun aku enggan. Mereka malaikat tak bersayapku yang kini telah menetap di pembaringan terakhir. Tidak ada kata “antara Ayah dan Ibu” yang ada hanya “Ayah dan Ibuku”.

“Maaf Nyonya….,Nyonya…., sejak tadi pesawatnya sudah mendarat” Tetiba seorang pramugari membangunkanku.

Aku telah mengetuk semua pintu tapi sia-sia.
Aku telah memasuki sebuah ruangan tapi tak seorangpun mau menolongku.
Aku merasa kecewa bukan lelah
Aku bukan mencari sebuah atap
Tapi perlindungan
Perlindungan yang mengakui keberadaanku sebagai manusia biasa.
Sebagai manusia perindu
Perindu kasih sayang
Ya, hanya kasih sayang
Dari Ayah, Ibu, dan tentunya Suamiku
Yang hanya dapat ku lihat lewat album kenangan
Itu saja.

Kalian tahu, fisik suamiku ada di dalam album kenangan. Tapi tidak dengan hatinya. Ia ada dalam diriku. Dekat. Sangat dekat.

Ia berada dalam diriku dan oh tentu saja apapun yang ia kenakan akupun akan mengenakannya
Kalian paham kan maksudku?

Dan satu lagi yang mengusik ketenangan kami, maka peluru cantik ini akan tertanam dalam pemikiran kalian yang begitu mengagumi kami.

Terima kasih atas kekagumannya
Kami tak perlu di kagumi

DAN KALIAN HARUS TAHU, CINTAKU TAK MENGENAL KATA MATI…

Ah, kata-kata ini seharusnya tertanam dalam hati dan otak kalian. Para pengagum keluargaku.


Jumat, 20 Mei 2016

"Dear Diary"


Aku tidak ingin dia yang ku cinta memiliki karakter yang sama dengan ayahku, semnggu lagi kami akan memasuki kehidupan baru, kehidupanku akan berubah drastis. Hamil, melahirkan, menyusui akan menjadi rutinitas yang tak terelakkan.

“Aku ingin menikah denganmu Zahra, aku ingin hidup dengan wanita sholehah, aku ingin anak-anakku lahir dari rahim seorang ibu yang tidak hanya cantik tapi juga memiliki akhlak yang tidak hanya sekadar teori semata”.

“Aku tahu aktivitasku hanya mabuk-mabukkan, menganggu orang-orang di jalan dan menganggumu, tapi kau harus tahu sebab aku seperti ini, kedua orangtuaku wafat pada kecelakaan tunggal 40 hari yang lalu dan saat itu aku sangat terpukul”.

“Aku lebih memilih keluar dari pesantren sebab ku pikir untuk apa aku kuliah setinggi langit kalau Allah telah memanggil orang-orang yang ku sayangi?”

40 hari yang lalu engkaupun hadir dengan senyum merekah memberikan semangat kepadaku,
“Yang tabah yah Dit, dirimu pasti kuat”Ucapmu.

Aku tiba-tiba teringat kisah ayah dan ibuku, mereka berada di pesantren yang sama dan ditakdirkan bertemu kembali.

“Zah, aku melihat ibuku, aku melihat ibuku pada sosok Dina rekan kerjaku, perhatian yang ia berikan, kasih sayang yang saya rasakan darinya, senyumannya, boleh tidak ia tinggal dengan kita?”

“Astaghfirullah …. Sadar Dit, tidak ada yang bisa menggantikan ibu, apa kau ingin menduakanku dan menikah lagi?”

“Alah …, jangan ceramah, aku tahu apa yang seharusnya ku lakukan, aku ini suamimu dan aku lebih tahu apa yang seharusnya ku lakukan”.

“Oke kalau ternyata itu keputusanmu, tapi sebelum itu kau harus menandatangani surat perceraian kita”.

“Baik, kalau itu maumu, aku lebih memilih sosok ibu berada di rumahku daripada sosok orang yang keras kepala sepertimu”.

Aku tidak ingin pola pikir ayahku sama seperti pola pikir calon suamiku, dan seharusnya karakter seorang ibu tidak disamakan dengan wanita manapun di dunia ini.

Dear Diary …


Semoga saja cerita cinta orangtuaku tidak berulang di cerita cintaku.

Sumber Gambar : onmogul.com