Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

"Cintaku Tak Mengenal Kata Mati"

“Suaminya meninggal, dia mulai memakai pakaian suami yang tentu saja tidak pantas untuknya. Dia mulai mengerjakan kebiasaan-kebiasaan mendiang suaminya ketika hidup, seperti merokok dengan cangklang walaupun para tetangga telah mengatakan tingkahnya ini agak aneh dan harus di hentikan. Dia terus saja menjadi pria-wanita bahkan dia tidak terganggu oleh kerancuan identitas seksualnya”.

QZ 7531 akan berangkat sekitar 20 menit lagi, di temani sebuah koper. Aku duduk di baris ke tujuh dari jejeran bangku di pesawat.

Tujuh, entah mengapa aku menyukai angka ini, terlahir tepat di hari ke tujuh, langit berlapis tujuh, dan tentunya tepat tanggal tujuh yang bertepatan dengan hari kelahiranku Ayahku telah berada di pangkuan-Nya. Yah, mungkin karena alasan inilah aku menyukai angka tujuh.

Ayah.

Tetiba aku mengingatnya, dan tentunya mengingat perkataan para pengagum keluarga kami. Menurutku, rasa sayang mereka berlebihan terhadap ayahku, aku tahu ayahku pemabuk, pemakai narkoba. Tapi, sekali lagi aku tidak suka jika kalian menunjukkan kasih sayang kepada beliau dengan perkataan yang hanya menyakitiku.

Terlahir dari dua aliran yang berbeda, ibu yang taat dan ayah yang ah…., tapi, bagaimanapun dia adalah ayahku, ayahku, dan ayahku. Ayah yang sangat hebat dan tidak akan pernah tergantikan sampai namaku tertulis tepat di sebuah nisan.

Ingat dengan filsafat pasir? Kita seharusnya belajar pada filsafat pasir yang tak pernah menyimpan dendam pada setiap kaki yang menginjaknya. (Tetiba perkataan Ayah muncul dalam benakku).

Aku tidak akan pernah sekalipun akan membagi kasih sayangku, bahkan niatpun aku enggan. Mereka malaikat tak bersayapku yang kini telah menetap di pembaringan terakhir. Tidak ada kata “antara Ayah dan Ibu” yang ada hanya “Ayah dan Ibuku”.

“Maaf Nyonya….,Nyonya…., sejak tadi pesawatnya sudah mendarat” Tetiba seorang pramugari membangunkanku.

Aku telah mengetuk semua pintu tapi sia-sia.
Aku telah memasuki sebuah ruangan tapi tak seorangpun mau menolongku.
Aku merasa kecewa bukan lelah
Aku bukan mencari sebuah atap
Tapi perlindungan
Perlindungan yang mengakui keberadaanku sebagai manusia biasa.
Sebagai manusia perindu
Perindu kasih sayang
Ya, hanya kasih sayang
Dari Ayah, Ibu, dan tentunya Suamiku
Yang hanya dapat ku lihat lewat album kenangan
Itu saja.

Kalian tahu, fisik suamiku ada di dalam album kenangan. Tapi tidak dengan hatinya. Ia ada dalam diriku. Dekat. Sangat dekat.

Ia berada dalam diriku dan oh tentu saja apapun yang ia kenakan akupun akan mengenakannya
Kalian paham kan maksudku?

Dan satu lagi yang mengusik ketenangan kami, maka peluru cantik ini akan tertanam dalam pemikiran kalian yang begitu mengagumi kami.

Terima kasih atas kekagumannya
Kami tak perlu di kagumi

DAN KALIAN HARUS TAHU, CINTAKU TAK MENGENAL KATA MATI…

Ah, kata-kata ini seharusnya tertanam dalam hati dan otak kalian. Para pengagum keluargaku.


Jumat, 20 Mei 2016

"Dear Diary"


Aku tidak ingin dia yang ku cinta memiliki karakter yang sama dengan ayahku, semnggu lagi kami akan memasuki kehidupan baru, kehidupanku akan berubah drastis. Hamil, melahirkan, menyusui akan menjadi rutinitas yang tak terelakkan.

“Aku ingin menikah denganmu Zahra, aku ingin hidup dengan wanita sholehah, aku ingin anak-anakku lahir dari rahim seorang ibu yang tidak hanya cantik tapi juga memiliki akhlak yang tidak hanya sekadar teori semata”.

“Aku tahu aktivitasku hanya mabuk-mabukkan, menganggu orang-orang di jalan dan menganggumu, tapi kau harus tahu sebab aku seperti ini, kedua orangtuaku wafat pada kecelakaan tunggal 40 hari yang lalu dan saat itu aku sangat terpukul”.

“Aku lebih memilih keluar dari pesantren sebab ku pikir untuk apa aku kuliah setinggi langit kalau Allah telah memanggil orang-orang yang ku sayangi?”

40 hari yang lalu engkaupun hadir dengan senyum merekah memberikan semangat kepadaku,
“Yang tabah yah Dit, dirimu pasti kuat”Ucapmu.

Aku tiba-tiba teringat kisah ayah dan ibuku, mereka berada di pesantren yang sama dan ditakdirkan bertemu kembali.

“Zah, aku melihat ibuku, aku melihat ibuku pada sosok Dina rekan kerjaku, perhatian yang ia berikan, kasih sayang yang saya rasakan darinya, senyumannya, boleh tidak ia tinggal dengan kita?”

“Astaghfirullah …. Sadar Dit, tidak ada yang bisa menggantikan ibu, apa kau ingin menduakanku dan menikah lagi?”

“Alah …, jangan ceramah, aku tahu apa yang seharusnya ku lakukan, aku ini suamimu dan aku lebih tahu apa yang seharusnya ku lakukan”.

“Oke kalau ternyata itu keputusanmu, tapi sebelum itu kau harus menandatangani surat perceraian kita”.

“Baik, kalau itu maumu, aku lebih memilih sosok ibu berada di rumahku daripada sosok orang yang keras kepala sepertimu”.

Aku tidak ingin pola pikir ayahku sama seperti pola pikir calon suamiku, dan seharusnya karakter seorang ibu tidak disamakan dengan wanita manapun di dunia ini.

Dear Diary …


Semoga saja cerita cinta orangtuaku tidak berulang di cerita cintaku.

Sumber Gambar : onmogul.com

Minggu, 24 April 2016

"Aku Terlanjur Mencintainya"


Aku terlanjur mencintainya
Berawal dari perkenalanku dengannya lewat rekanku
Tepatnya sekitar tiga tahun yang lalu

Aku terlanjur mencintainya
Secepat denyutan nadiku
Secepat aliran darah mengalir di tubuhku
Secepat denyut jantungku

Akan tetapi takdir berkata lain
Aku baru saja di terima di sebuah universitas
Itu alasan mengapa aku menolak pinanganmu

Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku
Aku baru menyesal karena telah menolakmu
Tapi, mungkin inilah jalan takdir kita
Kau tahu hanya butuh waktu semenit mencintaimu
Tapi, butuh waktu seumur hidup untuk bisa melupakanmu


Sumber Gambar : www.zanjbil.com

"Maafkan Aku Ayah"

Aku lebih memilihnya bukan tanpa alasan selain baik, ia juga bisa menjadi imam untukku, pertemuan pertama itu berawal lewat sosial media.

Penasaran dengan dirinya pada akhirnya akupun memberanikan diri membuka “Rumah” Facebooknya, postingan-postingan tentang dakwah berjejer dengan rapi, mengenai ukhuwah, muamalah, pernikahan, dan lain sebagainya.

Ternyata dia juga berteman dengan sepupuku, jadi aku tidak khawatir lagi apakah memang kepribadiannya sama dengan isi dari tiap postingannya. Dan Masya Allah ternyata karakternya memang seperti itu.

“Kita itu dari keluarga terhormat, kakak-kakakmu itu menikah dengan anggota prajurit TNI, masa’ kamu yang lulusan universitas akan menikah dengan  pria berjenggot yang hanya lulusan pesantren, mau di beri makan apa kamu, ha?”

Kata-kata ayah begitu menusukku, kata-kata ini begitu melekat sampai saat ini hingga buah hatiku kini telah berusia 2 tahun, kata-kata Ayah masih terngiang dengan jelas di telingaku.

Tiga tahun silam, aku di perkenalkan dengan seorang yang katanya anggota TNI, pilihan ayahku, ya seperti lelaki pada umumnya dia gagah, putih, tinggi, ia sering mengajakku jalan. Aku tak bisa menolak sebab ini permintaan ayah.

Tiba-tiba jiwaku seakan menasehatiku
“Dia bukan lelaki baik Na, lihat saja pada saat kamu jalan dengannya, sempat-sempatnya ia melirik perempuan lain”.

Kata hati memang tak pernah salah, sehari setelah kejadian itu aku mendengar kabar dari sepupuku katanya ia melihat cowokku berjalan dengan wanita lain, sebagai perempuan normal hatiku begitu pedih mendengarnya.

Ku bulatkan niatku untuk berkata pada ayah bahwa pilihanku jatuh pada pemuda itu, meskipun perawakannya biasa saja tetapi hatiku telah terpaut padanya.

Maafkan aku Ayah, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, aku lebih memilih imam yang akan membimbingku menjadi wanita sholehah di dunia dan akhirat daripada memilih lelaki yang tidak mementingkan akhiratnya.

Sumber Gambar : www.tigasiku.com






"Di Titik ini"

Di titik ini,
Tiba-tiba aku ingin menjadi seekor merpati
Menelusuri samudra dan berkata “aku sangat merindukanmu”

Di titik ini,
Tiba-tiba aku teringat engkau yang pernah berkata
“Kau tahu sayang, di bolak-balikpun kata rindu tidak akan membentuk namamu tapi rindu akan selalu tertuju padamu

Di titik ini, jiwaku berkata
“Aku akan selalu mencintaimu kekasih dengan cinta yang tak berpenghujung

Di titik ini,
Aku mengingatmu dan mengingat ijab kabul yang kau ucapkan sejam yang lalu

Di titik ini,
Aku sadar bahwa kematianlah yang akan menjadi pemutus hubungan kita di dunia tapi tak di surga_Nya, Insya Allah

Di titik ini,
Serasa akupun ingin segera menyusulmu sayang …


Sumber Gambar : www.ummi-online.com


Rabu, 06 April 2016

"Terima Kasih"


Ketakutanku akan masa depan 12 tahun lalu kini sirna, benar apa yang telah difirmankan_Nya bahwa DIA tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah_Nya.

Dengan keadaan keluarga yang sederhana otomatis sayapun pasti tidak akan bisa mewujudkan mimpiku, mimpi yang telah tertuang dalam pikirku semenjak aku duduk di bangku sekolah menengah atas.

“Saya tidak akan mungkin melanjutkan studi ke universitas Dit..,ayah saya hanya pedagang asongan, dan ayah juga tengah membiayai pendidikan ketiga adik saya”

“Ahmad...jangan berkecil hati.. Allah itu ada dan berdo’alah maka DIA pasti mendengar do’a-do’amu, teruslah berdo’a hingga lelah sendiri yang akan menjauh darimu…”

“Kita tercipta sebagai lelaki dan tahukah kau dik? Pada dasarnya lelaki itu ketika memutuskan suatu perkara logikanya lebih menonjol daripada perasaannya dibandingkan dengan perempuan sangat jauh berbeda, perempuan itu jika diibaratkan 9:1, jika memutuskan satu perkara perasaannya lebih mendominasi dari logikanya hehe… jadi meskipun kita lebih banyak memakai logika tapi jangan sampai logika kita mengalahkan keyakinan kita pada_Nya maksudnya adalah jika dihubungkan dengan masalahmu saat ini maka secara logika engkau memang ditakdirkan oleh Allah lahir di keluarga yang sederhana tapi tidak menutup kemungkinan dengan usaha, do’a, tekad, dan keyakinan yang kuat tentunya kita juga bisa meraih impian kita” kata Ustadz beberapa pekan lalu padaku.

Tetiba salju turun begitu derasnya, membasahiku, menemaniku. Menemani kerinduanku. Ya kerinduanku akan sosoknya, sosok yang ramah, tidak marah meskipun saya selalu membantah perkataannya.

Innalillahi wainnailaihi roji’un Ustadz Dito telah berpulang kerahmatulah. Isi sms temanku beberapa menit yang lalu.

Teruntuk teman-temanku yang berasal dari keluarga yang sederhana di luar sana, janganlah risau, tetaplah kejar impianmu.
Lenyapkanlah logikamu sejenak
Hilangkanlah keluh kesahmu
Raihlah mimpi-mimpimu
Lembutkan hatimu untuk menerima nasehat dari orang-orang yang mencintaimu

Terima kasih banyak untuk ustadz, kawan, sahabatku sekaligus…
Semoga Allah merahmatimu, melapangkan kuburmu, mengampuni dosa-dosamu.
Aamiin Allahumma Aamiin

Maafkan aku yang tidak bisa menyampaikan ini secara langsung
Dari sahabatmu
Di negeri sakura


Send….

Sumber Gambar : anna-jueanna.blogspot.com

Senin, 04 April 2016

"Tiga Sajak Dari Seorang Gadis"

(1) Pada pagi hari
     Seorang gadis
     Memetik sekuntum bunga melati
     Dan berkata "aku ingin menjadi sepertimu"

(2) Pada siang hari
     Seorang gadis
     Melukis lelaki berbaju koko
     Dengan senyuman manis
     Dan berkata " ini lelakiku"

(3) Pada malam hari
     Seorang gadis
     Menatap foto sepasang pengantin
     Dan berkata "ayah, ibu kapan kalian kembali?"


Sumber Gambar : kartun.co555 × 416

Senin, 21 Maret 2016

"5 Menit Yang Pilu"


Kau tidak akan paham mengapa aku seperti ini
Terkutuklah saat-saat dirimu  sadari aku seperti ini
Tampak seolah tindakku berbunga dosa

“Aku ingin berhenti dari perjalanan ini
Seperti deras hujan yang memaksa kita berhenti
Di sebuah gubuk tua” pekikmu di telepon 5 menit yang lalu

Canda tawa  dan kibasan rambutmu di bahuku
Akankah jadi angin lalu?
Teriakku di sebuah sudut kamar nan sepi

“Aku takut Tuhanku Murka padaku
Karena telah melanggar janji ku
Aku telah berjanji di dalam rahim ibuku pada Tuhanku
Kau percaya jodoh sudah di tentukan kan?”
Pekikmu untuk kedua kalinya 5 menit yang pilu

“Harapku semoga namamulah yang terukir indah pada catatanTuhanku
Dengan cara ini tindakku akan berbunga pahala untukku apalagi untukmu

Terima kasih telah memberikan hatimu yang seluas samudra itu
Yang kau persembahkan hanya untukku”

 Sumber Gambar : ceritakatacinta.blogspot.com


Jumat, 18 Maret 2016

"Persahabatan"

Setiap kali bertemu kita saling sapa walaupun waktu itu kita tidak saling mengenal satu sama lain. Kau bukan kakakku bukan adikku, ibu atau bapakku, bahkan kita tidak memiliki hubungan darah.

Ketika aku sedang membutuhkan bantuan, Kalian pasti tiba pada waktunya. Tak ketinggilan dalam moment apapun. Suka maupun duka.

“Ma mama sedang apa sih? “
“Mama sedang membaca surat dari sahabat mama Sri…,siapa nama sahabat mama itu?”
“Nama mereka  tante Ulfa dan tante Leni Sri… dan mama sedang membaca surat dari tante Ulfa,    kami telah bersahabat semenjak kami duduk di sekolah dasar hingga di sekolah menengah atas”.

“Rina.. hei assalamu ‘alaikum…, bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik Len...”
“Rin yuk ikut kajian..,nambah-nambah wawasan agama kita, kan bagus tuh, kita sudah cantik plus sholehah lagi hehe.. just kidding just kidding”
“Iya Rin, betul apa kata Leni, kita ikut pengajian yang diadakan kakak-kakak rohis yuk…”
“Tapi aku nggak bisa, aku punya janji dengan adikku, ingin mengajaknya ke Swalayan..”
“Hemm..., Kalau begitu besok yach, inget pukul 04.00 sore”
“Oke Insya Allah…”

Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu Ya Rabbi.. Ya Rabbi..,kub berserah ku berpasrah hanya padamu Ya Rabbi…
“Eh Fa.... Handphonemu bunyi tuh…”
“Assalamu ‘alaikum dengan mbak Ulfa?”
“Iya dengan saya sendiri, ini dengan siapa?”
“Saya dengan adiknya mbak Rina, mbak Rina sekarang tengah dirawat di rumah sakit kemarin beliau tiba-tiba pingsan pas pulang sekolah kata dokter karena kelelahan”
“Oke adik, terima kasih atas infonya kami kesana sekarang”

Keadaan di rumah sakit

“Mbak boleh nggak aku titip mbak Rina, aku mau pulang dulu, orangtuaku lagi ada di kampung, dan aku mau menyiapkan perlengkapan untuk mbak Rina"
“Iya boleh dek, kami menginap pun tidak apa-apa “
“Makasih banyak kakak”
“Iya dek”

“Nak itu hanya sedikit kisah kami bertiga, pada saat itu mama di rawat di rumah sakit, orangtua mama sedang di kampung karena ada beberapa urusan yang harus diseleseikan dan pada saat itu hanya saya dan adik mama yang berada di rumah. Untunglah ada sahabat-sahabat mama yang membantu. Dan semoga kelak dirimu juga bisa mendapatkan sahabat-sahabat seperti mama ya.. Aamiin.






Kamis, 17 Maret 2016

"Tunggulah Pengantinmu"

Di Bandara sultan Hasanuddin
Terlihat banyak yang melepas kepergian
Buah hati, orangtua, kakak, adik, dan …
Tentunya ku harus melepas kepergianmu

Kau tahu apa yang ada di hati mereka?
Bahagiakah?
Sedihkah?
Kecewakah?
Atau biasa saja?
Seperti katamu kau tak akan meninggalkanku, tapi apa?

10 menit lagi jasadmu akan dibawa
Tanpaku yang kini tetap setia ditemani oleh kanker stadium tiga
Disini di tempat kita bersua untuk pertama kalinya

Tunggulah Aku
Aku akan datang mendekapmu
Menghampirimu
Katamu engkau menyukaiku jika diriku …
Setiap detik berdandan cantik seperti pengantin dan matamu akan terus menatapku
Tenanglah kita akan tetap menjadi sepasang pengantin untuk selamanya sayang…

Tunggulah pengantinmu…

Sumber Gambar  : www.muslimuna.com

Rabu, 16 Maret 2016

"Catatan Perempuan"


Hey ada yang tiba-tiba terjatuh dari pelupuk matamu
Apakah yang terjadi pada dirimu
Wahai anakku?
Apakah dirimu tengah bahagia, gusar, atau dalam keadaan berduka?

Ku melihat ada diary disana
Kubuka
Dan ia berkata
Kini usiaku sudah menuju
30 tahun. Yah..30 tahun
Tahukah kau apa yang kurasakan?

Aku tahu Allah telah menyiapkan pangerannya
Entah di bumi ini atau di surga-Nya
Yang pasti diriku harus memantaskan jasmani dan rohaniku tentunya
Apakah pantas atau tidak dipertemukan dengan dirinya

Ataukah...
Tamu terakhir yang terlebih dahulu menyapaku, menyambutku, kemudian meminangku?
Kau tahu kan tamu terakhir itu?
Dia adalah pemutus kebahagiaanku
Dengan perlahan kututup diarynya
Seisi ruangan tiba-tiba membisu…

Sumber Gambar : wulanrahtri.blogspot.com

Rabu, 09 Maret 2016

P.E.R.E.M.P.U.A.N

Aku melihatnya. Ia memakai gaun putih panjang menjuntai indah. Lembut. Riasan wajah yang sederhana tapi elok menggambarkan sesosok ratu yang menunggu jemputan rajanya. Dengan membawa sebuah ikatan bunga yang cantik ia tengah menunggu, menunggu kehadiran sang pangeran hatinya.

Pukul 10.00 WIB
Aku masih melihatnya

Pukul  11.00 WIB
Dia tengah duduk dengan manisnya

Pukul 12.00 WIB

Kulihat ia tengah gusar, entah apa yang dipikirkannya

“Nak, ini sudah pukul 12.00 malam, sedang menunggu siapa nak…???”

“Maaf pak, seharusnya tadi saya kesini pas kereta api nya tiba, saya mau menjemput orangtua saya pak, nah ternyata tanpa melihat jam, saya berlari kesini dan jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam”

Berbarengan saat melihat jam di handphone saya sms pemberitahuan pun masuk
Nak… kami tidak jadi berangkat malam ini karena nenekmu tiba-tiba sakit.
Ia tidak apa-apa ma…. Balasku.

“Maaf pak saya mau nanya perempuan yang disana itu (sambil nunjuk perempuan yang bergaun putih) kok masih disini?”

“Dia sedang menunggu suaminya nak… padahal sudah ada berita suaminya telah wafat pada saat melaksanakan tugas negara, suaminya seorang tentara, dia masih yakin suaminya masih hidup dan akan pulang, setiap malam dia berada disitu dengan pakaian pengantin lengkap nak….”

“Keluarganya tidak mencarinya pak?”

“Pasti nak tapi kamu tahu apa yang dia katakan???”

Ma…, Pa…Dini hanya punya satu permintaan, tolong jangan berprasangka buruk dengan suamiku, dia sedang bertugas…., dia baik-baik saja disana, dia tidak menghubungi aku karena sedang sibuk mengurus kewajibannya sebagai pembela negara.  dia pasti pulang, mama dan papa istirahat saja di rumah, nanti mama dan papa sakit biar aku yang menunggu suamiku disini. Aku baik-baik saja kok Ma dan ada pak Didin kok yang menemani saya disini.

"Kabar kematiannya kapan pak, pas setelah akad nikah suaminya pergi? atau bagaimana pak?"
"Kabarnya...suaminya ada panggilan tugas sehari setelah ia menikah dan tidak sampai 24 jam setelah keberangkatannya kabar kematiannya pun terdengar..."

Bapak penjaga terminal kereta api ini begitu fasih menceritakan kisah perempuan itu dan aku tak bisa berkata apapun tetiba mataku melihat ke arah perempuan malang itu.



Selasa, 08 Maret 2016

"Adilkah Tuhan???"

“Tuhan tidak adil Ri…”

“Astaghfirullah… istighfar Dil kenapa dirimu berkata seperti itu?”

“Aku telah menjalin kasih dengan seorang lelaki selama 4 tahun, kami sudah saling mencintai satu sama lain dan ingin segera menikah tapi terhalang karena orangua ku menginginkan mahar yang terlalu besar, Ri.. ditambah pula kekasihku itu hanya seorang pegawai biasa dan ingin menikahiku tanpa mempersulit orangtuanya dan ia juga memiliki seorang ayah yang sudah tidak memperdulikan dia lagi Ri, ia sudah tidak diperdulikan di keluarga itu…kasihan dia”
“Adilkah Tuhan Ri…??”

“Istighfar dil.. Istighfar…”

“Jangan selalu menyalahkan Tuhan, semua orang memiliki masalah Dil, bahkan lebih besar, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya itu Firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah-286 dan dalam QS.Al- Insyirah:6 sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

“Tapi.. saya sayang banget sama dia..., dia sudah berkorban banyak Ri untuk saya, saya akan memilih siapa Ri?” saya tidak bisa putuskan dia begitu saja kalau dirimu menyuruh saya memutuskannya”.

“Adilla sayang… pacaran itu diperbolehkan oleh Allah setelah nikah, mungkin Allah menginginkan yang terbaik untuk kamu…  hal pertama yang harus kamu lakukan adalah berdo’a bersungguh-sungguh bahkan  menangislah di hadapan-Nya, curhat ke Allah, keluarkan semua yang ada dalam hatimu…, sampaikan apakah kekasihmu itu jodohmu yang sebenarnya atau tidak, kalau jodoh dekatkan,kalau tidak jauhkan“.

“Berdo’alah dengan sungguh-sungguh, jangan mudah putus asa, Dil untuk masalah orangtua berbicaralah dengan baik-baik dengan beliau dengan bilhikmah tidak menggurui… orangtua tidak suka diperlakukan seperti itu karena mereka mengganggap bahwa mereka sudah makan asam garam kehidupan… dan jangan lupa tetap do’akan mereka supaya hatinya diluluhkan, sampaikan kepada mereka bahwa menikah itu adalah sunnah Rasul dan sunnah Rasul adalah menyelenggarakan pernikahan yang sederhana, sampaikanlah dengan lemah lembut..”

“Ingat Dil yang memegang hati manusia adalah Allah, orangtua kita berwatak keras tapi Allah sangat bisa mengubahnya menjadi lembut selembut kapas, seperti robot yang hanya bisa diam jika ditaklukkan oleh yang membuatnya pastinya”

“Jangan Salahkan Allah…”

Sumber Gambar : metro.news.viva.co.id

Senin, 07 Maret 2016

"Sadar Diri"

Suara Hafidzh dan Hafidzah telah bersahut-sahutan di seluruh penjuru negeri berbarengan dengan suara gemericik air wudhu.

Aku tetap masih setia berada di depan laptop menyeleseikan tugas-tugas negara yang kian menumpuk, salju tak bosan-bosannya memutihkan negeri yang terkenal dengan istilah matahari terbit ini.

“Hemm...mohon maaf sal.. aku tak bisa menikmati keindahanmu yang turun secara perlahan-lahan nan indah” lirih bathinku.

Bulan ajaib yang penuh keutamaan telah menyapa, entah para muslim dan muslimah menyambutnya dengan perasaan suka cita, biasa saja, sedih, atau perasaan marah??? Entahlah…

“Ah… bulan puasa lagi... bulan puasa lagi… aduh berarti kita puasa lagi nih…sudah capek di depan laptop buat proposal, penelitian nanti akan seperti apa, mondar mandir  ke kampus ketemu dosen itupun kalau dosennya mau ngeladenin di temani terik matahari yang kian menyengat.. eh nggak bisa minum lagi….”

 “....( diam saja ada atau tidak ada bulan ramadhan biasa saja, tidak terpengaruh, adem ayem )      

“… kita puasa saja ngikutin orang-orang, entar kalau nggak puasa kita disangkain noni lagi (non    muslim)

“Nak.. Bulan Ramadhan itu bulan penuh ampunan… jangan disia-siain.. diantara 12 bulan hanya 1 bulan kita diperintahkan berpuasa. Allah baik kan sama makhluknya? Selain berpuasa seharusnya kita juga menambahkan dengan ibadah-ibadah sunnah yang lain seperti melaksanakan shalat sunnah, shalat sunah rawatib,tadarrus, bersedekah setiap hari dan amalan-amalan lainnya tapi tidak disertai dengan ngegosip dan ngumpul-ngumpul tidak jelas  ya… ^ ^
“ Wahhh…kata-kata teman-temanku, saudara-saudaraku dan ibuku  beberapa hari yang lalu sudah begitu melekat di pikiranku… aku mau ngikutin yang mana nih?"
   
Allahu Akbar Allahu Akbar …
Allahu Akbar Allahu Akbar ...
“Alhamdulillah sudah Adzan ku shalat dlu ah mohon petunjuk sama Allah”


Senin, 29 Februari 2016

"Asa Ayahku"


“ Yang penting mereka sehat-sehat saja disana….”

Aku mendengar kalimat ini dari mulut seorang ayah, ayah yang telah membesarkan kami anak-anaknya, aku terlahir sebagai anak terakhir dari enam bersaudara,  ketiga kakakku sudah lama berpisah dari kami, mereka telah memasuki kehidupan barunya.

Ayahku orangnya pendiam bahkan sangat pendiam, ia hanya sesekali berbicara itupun hanya persoalan yang penting-penting saja, ia bagaikan malaikat kedua setelah ibu, ia membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, apapun yang kami inginkan pasti dikabulkan olehnya tanpa ada keluhan sedikitpun, hingga pada akhirnya kakak-kakakku memasuki kehidupan barunya beliau masih sangat memerhatikan mereka.

Cita-cita beliau tidak muluk-muluk, beliau hanya menginginkan anak-anaknya menjadi sesosok anak yang cerdas dan harus bersekolah setinggi-tingginya.

“ Walaupun Ayah tidak lulus sekolah dasar, Ayah ingin kalian bisa sekolah setinggi-tingginya” ucapnya lirih.

Alhamdulillah kami semua bisa mendapatkan Ijazah karena Allah melalui tangan beliau.

“Ayah yang telah sukses menyekolahkan kami, Ayah kami belum bisa bahkan mungkin tidak bisa sampai kapanpun membalas jerih payahmu, terima kasih Ayah untuk segalanya…”

Hingga tiba-tiba saja diriku kaget ketika dari mulut Ayah berucap

“Mereka tidak pernah ke rumah lagi, menelpon pun tidak tapi Ayah berharap semoga mereka sehat-sehat saja disana” ucapnya lirih.

Seketika itu raut wajah Ayah berubah. rumah seakan berubah menjadi mendung. Kelabu.

Aku terdiam.

“Ayah terima kasih banyak atas kasih sayangmu” ucap bathinku.


Sumber Gambar : informid.com3

Rabu, 24 Februari 2016

"Dialog Diri"

Mereka seperti melihat ke arahku
Mereka berwajah senang, sedih, kaget
Apakah mereka bagian dari diriku?
Entahlah....
Jangan mendekat! 
Jangan sekali-kali mendekat!
Pergi ... !!!
Pergi dari hadapanku!!!
Kutahu ekspresi wajah itu hanya "klise" semata
Wajah yang akan berbekas
Pada telepon genggamku, pada dinding facebook-ku, pada instagram-ku
Klise? Palsu?
Yang kuharapkan hanya wajah senang dan gembira pada hatiku
Sebab percuma berwajah "suka" apabila hati dalam keadaan sedih atau bahkan menderita
Semoga wajah-wajah itu hanya bayangan semu semata
Bayangan yang bisa terhapus hanya dengan sekali usapan tangan saja untuk jiwaku

Kamis, 18 Februari 2016

"Jihad"

"Ma.. Aku ingin masuk pesantren ya..."bertemu dengan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-NYA.. mama khan yang pernah bilang " nak kalau sudah lulus SMA kamu masuk pesantren ya"? tapi aku tidak mau saat itu .. kenapa? karena aku tidak akan ketemu mama lagi dehh setiap hari, tidak bisa bercengkrama dengan teman-temanku sepulang sekolah..

Aku terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara..kakakku yang pertama sudah menikah dan memiliki 2 anak, yang kedua masih sibuk menyeleseikan Tesisnya, yang ketiga yach itu aku "aku yang alhamdulillah telah memiliki 1 anak, dikala ku memasuki semester 4 aku telah dipertemukan dengan jodohku yang adikku yang keempat masih duduk di bangku SMA kelas 2,dan yang bontot itu sudah duduk di kelas 2 SMP..

di pesantren aku belajar banyak, belajar akidah, akhlak, muamalah dan lain-lain.. awal-awal berat sich,,tapi lama-kelamaan ku sudah terbiasa dengan kondisinya,," ning yuk kita ke kantin.." jajan makanan kecil" kata temanku yang tiba-tiba "menganggu lamunanku" " eh jangan terlalu banyak ngelamun nanti kemasukan syetan loch baru rasa.. " "iya.. iya.."



"Assalamu alaikum santri-santriku.. pelajaran hari ini ibu mengangkat tema tentang Jihad, sebelum itu ibu mau tanya dulu " apa pengertian jihad"??aku bu Jihad itu.. yach..Berperang di jalan Allah  seperti kisah-kisah Rasulullah bu"... " iya bagus jawabanmu ning".. kalau menurutmu Dita Jihad itu Apa? kalau menurut saya bu Jihad itu yachh membunuh orang -orang kafir yang tidak terima islam sebagai agamanya.. " Masya Allah bukan begitu dita.. Jihad itu kita membela Agama Allah, tapi tidak dengan membunuh orang-orang kafir malah sebaliknya kita harus bebuat baik dengan mereka.
dan kulihat ekspresi Dita sat itu "cemberut" seakan-akan tidak terima dengan jawaban ibu"

"Selamat Sore pemirsa News TV, Kali ini Para Polisi telah menangkap beberapa gerombolan teroris yang telah bersiap-siap melakukan aksinya, terdapat empat orang yang ditangkap salah satunya berjenis kelamin perempuan yang berinisial "D"..

kasus di atas harusnya menjadi pembelajaran bagi kita untuk tidak hanya memaksakan kehendak kepada anak dengan kata perintah saja akan tetapi kita harus berdiskusi dengan dia tentang arti kata pesantren misalnya, dan untuk lebih menjaganya maka kita tak boleh menyediakan Televisi dirumah agar lebih aman.

Terkadang Orangtua hanya memaksakan kehendak tanpa berdiskusi..
dan seharusnya bukan saat dewasa diperkenalkan tentang "islam atau pesantren" tapi semenjak ia Balita..

Ibu adalah Madrasatul 'Ula..

Sumber Gambar : counterjihadreport.com

Jumat, 12 Februari 2016

"Pembimbing Skripsi Gaul"



Bergaya parlente bak seorang artis yang baru saja terjun di kancah internasioanal, celana jeans yang ketat, dengan baju kemeja yang baru saja terkena panasnya setrika seorang lelaki berusia sekitar 30 an berjalan di kerumunan manusia-manusia yang tengah sibuk menunggu seseorang yang diamanahkan mengACCkan entah proposal, hasil penelitian, ataukah Mata Kuliah Paling Akhir nya
Beliau yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi "seseorang yang diamanahkan yang katanya membimbing manusia-manusia yang akan menyeleseikan studinya di perguruan tinggi"..beliau tergolong "Pembimbing Skripsi Muda" di Fakultas Tersebut, kalau melihat dari gayanya sich.. Pola Pikir beliau tuh "Anak Muda Banget".apalagi dari cara ngajarnya..
"pernah loch tin saya melihat kak Dandi berjalan ke masjid untuk melaksanakan sholat, gue                        pikir kakak nggak sholat hehe" kata temanku.."huss.. jangan ngomong gitu.ah kita seharusnya tidak  melihat dari penampilan orang tersebut jangan cepat memvonis orang.."Do'akan aja beliau semoga diberikan hidayah juga untuk mengubah penampilan nya supaya lebih syar'i", khan yang memegang hati manusia Allah.. Sang Pencipta.. jadi Do'akan yang baik-baik.."kataku
"oke bu Ustadzah.."

contoh diatas sudah banyak terjadi.. seharusnya kita mendo'akan mereka bukan malah mencemooh, menghina atau sejenisnya sebab tidak ada yang mengetahui "kapan hidayah itu datang" orang-orang yang masih berpakaian ketat, berjilbab pendek,yang jelasnya belum syar'i kita tak boleh menghina mereka, seharusnya diberitahu dan mendo'akan mereka sebab sekali lagi tidak ada yang tahu mungkin saat ini mereka seperti itu tapi tak tahu di akhir hayatnya.
‪Sumber Gambar : www.kukuh.id

Rabu, 10 Februari 2016

"Aku Jatuh Cinta"





Aku jatuh cinta padanya
padanya yang memberikan senyuman manis di setiap paginya
padanya yang memanggilku dengan "kata sayang menurutnya"
padanya yang selalu mendengarkan sekaligus melakukan apa yang menjadi kewajibannya..
dia begitu manis, cakep,ganteng, putih
siapa sich yang tidak jatuh cinta padanya..
apalagi dia penurut, sopan,ramah..
ku sangat senang sekali sebab setiap hari ku bertemu dengannya..
dengannya ku merasa senang
dan terkadang ia membuatku marah, hemm.. marah karena sayang
pastinya..
sayang karena Allah,cinta karena Allah insya Allah ku mengikuti apa yang Rasulullah sabdakan:
"sesungguhnya Amalan yang lebih dicintai Allah "azza wajalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah..
siapakah dia?
dia seorang lelaki berumur 5 tahun, mengapa saya jatuh cinta? yup saya jatuh cinta karena pada dasarnya fitrah seseorang itu menyukai anak-anak,harta,dan tahta.. wajar sich saya menyukainya tapi kali ini berbeda dikala pada suatu hari ia secara "spontan" mengajukan pertanyaan kepadaku:
"ummy.. ummy kok marah-marah sich? khan ummy pernah bilang, katanya terdapat hadits Rasulullah yang bersabda "la taghdob walakal jannah artinya
janganlah engkau marah dan bagimu syurga"..
pada saat itu saya langsung terdiam, Kemudian saya menjawab "bukan begitu nak, nanti adikmu jatuh" tahu tidak mengapa anakku berkata seperti itu ? sebab dari jauh saya berteriak " nak, jangan naik tangga nanti jatuh..(adiknya yang manjat-manjat) dalam hati berkata "mungkin suara saya keras yachh...
saya langsung teringat dengan sebuah kutipan:
"Jangan Melihat " Siapa" yang mengatakan tapi lihatlah" apa" yang ia katakan"
terima kasih atas pelajarannya nak...

Sumber gambar : www.dakwatuna.com
#onedayonepost
#februarimembara8