Minggu, 02 Oktober 2016

"Mantan"


Mantan...

kok aku langsung mau bahas ini sih..

ya.. pengen aja... hehe.., hmm.. menurut sebagian orang mantan itu tidak bisa dilupain, apalagi mungkin  mantan zaman putih abu-abu, dan.. bahkan zaman,, sekolah menengah pertama.. yang sampai sekarang masih kebayang.

yup berkesan mantan terindah kata grup band,, saya lupa nama bandnya.. maap..wuehehe.., dan saking berkesannya mungkin sekarang ini masih ada loh yang inget hari ultah mantannya. aku turut berbahagia. eh emangnya nikahan apa...

ga bisa dipungkiri sih dia yang kita cinta dan mencintai kita dulu dan karena takdir atau apa langsung pisah. kalau aku...,yah aku masih inget dengan mantan tapi tak ingat hari ultahnya. jahat banget ya aku.., hahaha.., tapi buat apa? Lah dia  udah punya istri. ga tau kalau yang satunya.

kalau yang satunya saya do'ain semoga dapet yang lebih baik dari aku. Aamiin..

Dan terakhir yang mantannya masih belum di khitbah, dan masih sangat mencintai dia saya do'ain semoga kalian berjodoh. Aamiin Allahumma Aamiin..

"Surga Yang di inginkan Sama"



Aku hidup di antara rimbanya sanguaritas semesta
Menjadi pengikut Nafsu Bukan pengikut Nafs..

Menjadi seorang muslim yang kaffah adalah tujuan hidupku.
saat ini aku iri, ya aku iri sebab di pelosok negeri sana, negeri yang di huni oleh manusia-manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Allah.

Dan sangatlah pantas mereka di sebut para mujahid
Para pembela agama Allah..
Mereka tertindas, tersakiti, terzholimi tapi lisan-lisan mereka senantiasa menyebut Asma-Nya..

Bocah-bocah yang rela bermulazamah dengan kitab suci meskipun dengan cucuran darah yang mengalir begitu derasnya.

Aku iri, ya aku sangat iri

Bukankah sifat iri tidak boleh ada pada hati manusia?

Sangat boleh.. asal...

kita iri pada manusia-manusia yang memiliki harta tapi harta tersebut di berikan pada mereka yang membutuhkan, manusia yang tidak hanya menuntut ilmu syar'i akan tetapi mengaplikasikan seluruh ilmu syar'i yang ia miliki di kehidupan sehari-hari. Wallahu 'alam.

dan seperti ada yang berbisik di telingaku

"Padahal surga yang diinginkan sama"

Lantas, apa yang selama ini aku lakukan???

"Hati Yang di Rebut"


Masa-masa kegelapan di malam hari pun berlalu, lampu penerangan listrik yang terang benderang masuk ke kampung pak Ali seperti Teplok, Petromaks, dan berjenis-jenis lampu minyak mulai di tinggalkan.

Aliran listrik yang masuk ke kampung ternyata mengundang juga barang baru lain yang sebelumnya tidak di kenal, ia adalah pesawat televisi.

Kotak ajaib.
aku menyebutnya seperti itu, ya si kotak ini telah menjadi perhatian dan titik fokus dari warganya, bahkan anak-anak yang dulu selepas maghrib dengan berbondong-bondong ke mushollah berangkat mengaji kini tak terlihat lagi.

Hati mereka telah di rebut oleh sebuah kotak ajaib.

Yang mereka lakukan selepas maghrib adalah duduk manis di depan pesawat televisi menonton acara yang mereka inginkan.

Yang membuat miris lagi adalah panggilan kemenangan tidak lagi memperoleh sambutan kecuali dari orang-orang yang telah berusia senja saja.

Kini, tak hanya kotak ajaib yang merebut hati mereka bahkan benda kecil yang di katakan Smartphone tidak hanya menguasai bahkan hati merekapun telah di rebut.

Sabtu, 24 September 2016

Fitrahnya Sebuah Rasa


“Hari ini hari jum’at Al, hari dimana segala do’a di ijabah oleh-Nya, dan saya berdo’a semoga kita semua cepat nikah dan  terhindar dari fitnah..”

“Aamiin…”kataku.

"Kau tahu Al… ini adalah sebuah aib bagiku, yang hanya ku ceritakan padamu, dulu ada seorang lelaki yang begitu perhatian denganku, apapun yang saya pinta pasti ia kabulkan. Entah itu saya meminta tolong kepadanya di bawakan sesuatu ke rumah… maka dengan sigap dan secepat kilat barang itu sudah sampai ke rumah".

"Apapun yang saya torehkan di Facebook ia like dan berkomentar bahkan ia mencari perhatian saya dengan memposting kegiatan dakwahnya dan memposting hal-hal yang berkaitan dengan dakwah. Sampai pada akhirnya ia menikah dengan perempuan lain".

"Kita boleh berencana Allahlah yang menentukan"

"Kau tahu, perempuan itu mudah sekali tersanjung, bahkan mungkin hanya sebuah like dari dia. Perempuan ini pun akan memikirkannya dan sampai akhirnya iapun berpikir bahwa lelaki ini suka dengannya".

"Padahal kau tahu sebagian lelaki itu biasa saja dan mengangggap kebaikan yang mereka lakukan itu adalah hal yang lumrah, bahkan sangat biasa".

"Jadi, pintar-pintarlah dirimu menjaga hati Al.."

“Hati-hati menjaga hati, ada banyak loh kisah akhwat yang jatuh hati lewat sosial media”

Pertama, mereka saling kenal dan  ngobrol lewat inbox sekian lama sampai akhirnya ikhwan ini meminta foto si akhwat, akhwatpun memperlihatkan fotonya dan pada akhirnya kau tahu apa yang terjadi? Setelah melihat foto akhwat itu, ikhwan ini kemudian tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar. Tega banget ya…

Kedua, mereka berkenalan di tempat yang sama FB. Lagi-lagi beda kota. Merekapun bersepakat saling bertemu, ikhwan mengirim uang transport ke akhwat. Katanya kalau sudah sampai, maka mereka akan menikah di kota tempat tinggal ikhwan, akhwat inipun dengan berani menemui yang katanya “belahan jiwanya”. Tapi sesampainya di sana, si akhwat tidak menemui ikhwan ini. Kasihan akhwatnya.

Ketiga, saya mendengar cerita dari seorang kakak, katanya ada beberapa lelaki yang emang serius menikahi kekasih yang walaupun beda kota loh, mudah-mudahan termasuk kamu Al…

“Hmm..terakhir yang ingin ku katakan adalah, laki-laki itu tidak hanya mementingkan rasa, tapi mereka juga mempertimbangkan segala sesuatunya, dan pasti keluarganyapun ikut campur, mempertimbangkan segala sesuatunya ya, termasuk beda kota. Butuh biaya tak sedikit Al…, saya tau perasaan itu datangnya dari Allah dan itu manusiawi.. tapi..

“ saya nggak tau, yang saya tahu saat ini saya menyayanginya. Kau pasti tahu bagaimana perasaan 
perempuan ketika jatuh cinta Nad…”










Hati Yang Tersakiti


Saya masih sangat memikirkan cerita cinta dari seorang kakak perempuan, ia cantik, berprofesi sebagai pendidik, dan sholehah pastinya. 

Dulu, ia sangat mencintai seorang lelaki yang ia kenal di sebuah kampus. Teman sekelas lebih tepatnya. Mereka menjalin ikatan sampai akhirnya lelaki ini memperkenalkan kakak cantik ini ke keluarganya.

Dari kisahnya saya berkesimpulan kakak ini sudah demikian akrabnya dengan keluarga lelaki ini. Dan nantinya mereka akan menikah. Tapi takdir berkata lain. Kekasih kakak ini lebih memilih untuk melanjutkan studinya ke sebuah negeri.

Ketika ia bercerita tentang kisahnya, ia mengatakan dengan bernada emosi” selama ia melanjutkan studi di sana, ia tak pernah sekalipun menghubungi saya, hanya saya yang menghubunginya. Menunggu chat darinya dan hasilnya nihil”.

Pada akhirnya saya menenenangkan beliau “mungkin kak, beliau sedang sibuk, tidak mau di ganggu dulu untuk sementara”. Tapi dengan nada emosi ia berkata “tidak, ia tidak seperti itu sebelum-sebelumnya, dan perkataan inipun terulang kembali.

“kenapa ia memperkenalkan saya ke keluarganya?”

Tangan saya tiba-tiba kaku, tidak bisa mengetik apapun untuk menjawab kalimat yang terlontar itu.

Beliau menetap di sebuah kota, kota di indonesia yang dijuluki “kota salju abadi”. Saya salut dengan kakak ini meskipun begitu ia tetap berhubungan baik dengan keluarga kakak lelaki ini. Membelikan mainan buat ponakan-ponakannya. Dan ia saya anggap sebagai kakak saya sendiri.

Ya, beliau sudah saya anggap sebagai kakak kandung saya meskipun lelaki yang saya ceritakan ini memilih perempuan lain. kakak lelaki ini adalah kakak kandung saya.

Di satu sisi sebagai adik tentunya saya tidak bisa menyalahkan kakak karena lebih memilih perempuan lain sebagai teman hidupnya. Mungkin ini yang di sebut sebagai jodoh, karena kematian, rezeki, dan jodoh adalah hal yang tersembunyi. Tak seorangpun bisa mengetahuinya.

Allah lah yang berkehendak

Tapi di sisi lain, saya.. huft.. tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saya tau perasaan kakak sebagai perempuan. Sangat sakit.

Pada saat di rumah sedang berkumpul, ia kemudian mengatakan alasan mengapa memilih wanita lain. Pertama, karena alasan jarak. Pasti banyak biaya yang akan di keluarkan. Kami beda kota.
Kedua, setelah saya mengetahui seluk beluk keluarganya. Saya berkesimpulan bahwa ketika kami bersatu maka akan terjadi ketidakcocokan di antara ibu. Antara ibu kami dan ibunya.

Sebagai saudara-saudaranya kami tak bisa menganggu keputusannya.


dan sampai sekarang saya merasakan luka yang beliau rasakan.  

Minggu, 11 September 2016

Surat Seorang Pengantin







Dear kekasihku,

Waktu terus menguap di pukuli detak-detak jam dan jarumnya yang tajam juga tak henti mengukir wajahku dengan pahatannya yang dalam, menghapus impian kita tentang sebuah halaman kecil dengan anak-anak kecil yang bermain di dalamnya.

Aku bangun sebuah rumah di batinku untukmu. Di situ, aku membayangkan kau tersenyum menyiram bunga di halaman setiap harinya.

Dulu, cintamulah yang membuat ketidakwarasanku, sepasang ginjal yang seharusnya ada di tubuhmu dengan rela kau berikan salah satunya pada ibuku yang bahkan bagi sebagian mereka adalah hal yang mustahil sebab kita belum sah secara agama beberapa tahun silam.

Ketidakwarasanku yang menunggumu, menunggumu tiba dengan kereta yang dulu membawamu pergi dengan cinta.

Cinta pada negeri katamu Saat itu aku tak bisa melepaskanmu. Dan kau tahu sayang beberapa menit sebelum kepergianmu aku ingin menyampaikan bahwa telah ada malaikat kecil di rahimku.

Dan keretapun berderek menjauh. Aku  melambai. Kau tahu, kita seperti rel yang menggerakkan kereta itu beriringan berdampingan tapi tidak bisa bertemu pada satu titik. Di situ senyumku abadi untukmu.

“Aku melihat kamulah yang mempercantik gaun itu, aura keibuanmu terpancar sayang, dan saya tidak menyangka engkaulah yang akan menjadi ibu dari anak-anakku”. Kalimat yang keluar dari lisanmu waktu itu.

Kelak akan ada yang tiba-tiba terjatuh ketika kita membuka-buka album, selembar potret, potret mayat yang meregang. Entah mengapa kau tiba-tiba berkata seperti itu tempo hari. dan ini seperti do’a yang langsung diijabah oleh-Nya.

Pada bagian mana dari rasa cinta yang belum melukaimu? Seperti ada  yang tiba-tiba  berbisik di telingaku.


Asal kau tahu sayang dulu, kini, selamanya rinduku tak mengenal kata rehat untukmu.

Kamis, 08 September 2016

Cuap Cuap Tere Liye

Hari Ahad yang lalu tepatnya tanggal 4 September 2016  adalah jadwalku menuju kampus Universitas Hasanuddin, bukan ingin bertemu kampusnya, tapi … ingin ketemu salah satu penulis yang sangat menginspirasi.

Yaitu …Tere Liye....

Di hari itu aku tidak dapat fotonya… hiks… kamera HP ku jelek di tambah saya lupa minjem kamera kakak…., dan bencana kedua adalah gegara buru-buru dan tidak bawa novel-novelnya aku juga tidak dapat tanda-tangannya… hiks..hiks…

Ya sudahlah lupakan kecerobohanmu Ir….

Di sana saya dapat banyak ilmu di antaranya :

Katanya kalau ingin menjadi penulis itu kita harus memiliki motivasi, kedua apa yang kemudian harus di tulis, dan yang ketiga bagaimana memulai karir kepenulisan kita.
Jadi itu aja?

Ga dong, beliau juga menceritakan bagaimana kemudian novel-novelnya di tolak oleh beberapa  penerbit, di kala mentok atau tetiba ga ada ide dalam nulis dan lain lain.

Tau novel Hafalan Shalat Delisa kan? Ya pasti tahulah. Kata beliau novel Hafalan Shalat Delisa itu belum selesei loh. Katanya pada kejadian Delisa selesei shalat harusnya Delisa masih harus di tanya tentang hakikat surah-surah yang ia baca. Tapi, kenyataannya Bang Tere mentok langsung pada ide cerita yang tiba-tiba Delisa menemukan cincin.

Kata beliau cerita belum selesei tapi udah di tonton oleh 30 juta orang. Masya Allah….
Dan katanya Novel Hafalan Shalat Delisa  juga pernah di taruh di rak bagian Hafalan Shalat bukan di bagian Novel hehe…

Beliau juga cerita pada saat ia ingin melanjutkan cerita pada novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu, kata beliau pada saat itu ga ada ide sama sekali untuk meneruskan ceritanya. Maka yang di tulis di laptopnya adalah

“saya ga tau mau nulis apa”

Hehe… Bang Tere Lucu Bingits….

Pernah juga suatu ketika Bang Tere di tanya oleh Ibu Rumah Tangga:
“ Bang, bagaimana saya memulai menulis? Saya juga berkeinginan menjadi penulis Bang”,  kata Bang Tere tulislah setiap resep masakan ibu setiap harinya. Maka, seiiring berjalannya waktu Sang Ibupun menulis resep-resep masakan setiap harinya di Blognya.. dan beberapa bulan kemudian ada penerbit yang menemukan dan melirik blog Ibu itu. Masya Allah sangat menginspirasi.

Dan….Kata Bang Tere ….
Menulis itu  adalah pekerjaan yang di laksanakan dengan enjoy dan katanya penulis yang baik adalah penulis yang tulisannya di kenal bukan orangnya.

Demikian... semoga bermanfaat..



Selasa, 30 Agustus 2016

"Cintaku Tak Mengenal Kata Mati"

“Suaminya meninggal, dia mulai memakai pakaian suami yang tentu saja tidak pantas untuknya. Dia mulai mengerjakan kebiasaan-kebiasaan mendiang suaminya ketika hidup, seperti merokok dengan cangklang walaupun para tetangga telah mengatakan tingkahnya ini agak aneh dan harus di hentikan. Dia terus saja menjadi pria-wanita bahkan dia tidak terganggu oleh kerancuan identitas seksualnya”.

QZ 7531 akan berangkat sekitar 20 menit lagi, di temani sebuah koper. Aku duduk di baris ke tujuh dari jejeran bangku di pesawat.

Tujuh, entah mengapa aku menyukai angka ini, terlahir tepat di hari ke tujuh, langit berlapis tujuh, dan tentunya tepat tanggal tujuh yang bertepatan dengan hari kelahiranku Ayahku telah berada di pangkuan-Nya. Yah, mungkin karena alasan inilah aku menyukai angka tujuh.

Ayah.

Tetiba aku mengingatnya, dan tentunya mengingat perkataan para pengagum keluarga kami. Menurutku, rasa sayang mereka berlebihan terhadap ayahku, aku tahu ayahku pemabuk, pemakai narkoba. Tapi, sekali lagi aku tidak suka jika kalian menunjukkan kasih sayang kepada beliau dengan perkataan yang hanya menyakitiku.

Terlahir dari dua aliran yang berbeda, ibu yang taat dan ayah yang ah…., tapi, bagaimanapun dia adalah ayahku, ayahku, dan ayahku. Ayah yang sangat hebat dan tidak akan pernah tergantikan sampai namaku tertulis tepat di sebuah nisan.

Ingat dengan filsafat pasir? Kita seharusnya belajar pada filsafat pasir yang tak pernah menyimpan dendam pada setiap kaki yang menginjaknya. (Tetiba perkataan Ayah muncul dalam benakku).

Aku tidak akan pernah sekalipun akan membagi kasih sayangku, bahkan niatpun aku enggan. Mereka malaikat tak bersayapku yang kini telah menetap di pembaringan terakhir. Tidak ada kata “antara Ayah dan Ibu” yang ada hanya “Ayah dan Ibuku”.

“Maaf Nyonya….,Nyonya…., sejak tadi pesawatnya sudah mendarat” Tetiba seorang pramugari membangunkanku.

Aku telah mengetuk semua pintu tapi sia-sia.
Aku telah memasuki sebuah ruangan tapi tak seorangpun mau menolongku.
Aku merasa kecewa bukan lelah
Aku bukan mencari sebuah atap
Tapi perlindungan
Perlindungan yang mengakui keberadaanku sebagai manusia biasa.
Sebagai manusia perindu
Perindu kasih sayang
Ya, hanya kasih sayang
Dari Ayah, Ibu, dan tentunya Suamiku
Yang hanya dapat ku lihat lewat album kenangan
Itu saja.

Kalian tahu, fisik suamiku ada di dalam album kenangan. Tapi tidak dengan hatinya. Ia ada dalam diriku. Dekat. Sangat dekat.

Ia berada dalam diriku dan oh tentu saja apapun yang ia kenakan akupun akan mengenakannya
Kalian paham kan maksudku?

Dan satu lagi yang mengusik ketenangan kami, maka peluru cantik ini akan tertanam dalam pemikiran kalian yang begitu mengagumi kami.

Terima kasih atas kekagumannya
Kami tak perlu di kagumi

DAN KALIAN HARUS TAHU, CINTAKU TAK MENGENAL KATA MATI…

Ah, kata-kata ini seharusnya tertanam dalam hati dan otak kalian. Para pengagum keluargaku.