Sabtu, 27 Januari 2018

Namaku (Bukan) Gilbert

Hasil gambar untuk anak laki laki kecil yang  meghadap ke belakang di gaza


Seketika aku terjaga dan memandang sekelilingku ku lihat gunung berapi memuntahkan nyala api. Seperti bunyi desing peluru dan dantum bom yang telah memunaskan bumi kami. Aku pun seakan binasa sebab seseorang yang katanya kaum gerilyawan tak pernah lupa menaksir-naksir bagian tubuhku yang tertutup. Ya,  seperti seekor gagak yang sedang menaksir-naksir calon bangkai.

Namaku Zahra.

Hanya seorang gadis kumuh yang saat ini sedang mengandung benih haram penjajah yang kelak bila lahir akan langsung menjadi musuh. Ini negeri tragedi. Tempat aku menangis saat lahir. Aku banyak bersedih dan menangis disini. Ingin menjadi rakyat di negeri kami? Tidak sulit. Cukup punya kesedihan dan air mata. Mungkin negeri kami tak akan kokoh tanpa kekejaman. Kebengisan dan air mata. Aku tak ingin menyumpahi mereka agar terkena serpihan ledakan. Aku tak ingin kebencianku berkecamuk dan berkembang subur seperti tanaman yang tumbuh hijau beberapa bulan yang lalu di negeriku. Ini negeri tragedi. Tempat aku menangis saat lahir dan ingin ditangisi ketika mati.

Namaku Zahra.
Hanya seorang calon ibu.

Zaman menderas, kehidupan membias, nurani menghilang. Pada akhirnya janin yang berada diperutku akan melihat begitu sadisnya dunia. Aku yakin dia terlahir untuk memerangi Ayahnya. ya, memerangi Ayahnya sendiri. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pada akhirnya dia tumbuh dewasa di balik jeruji besi. 

“Nak, kau harus mengikuti agama Ayah bukan Ibumu. Bermainlah sepuasmu. Keluarlah dari belenggu jeruji ini. Dengan syarat. Hanya satu. Jangan kau ikuti agama Ibumu. Dengarkan itu, kalimat yang ku dengar dari lelaki bejat untuk anakku yang  baru berusia 10 tahun”.
                                               
***

Allahu Akbar …
Terdengar suara takbir dari imam masjid bertanda akan masuknya waktu shalat. Mempercepat langkah kaki adalah hal yang di lakukan agar sampai tepat pada waktunya.
Ambulans, jeritan, tangisan secara bergantian memenuhi gendang telinga setiap insan yang berada disana.
Tubuhnya bergidik, air matanya mengucur deras melihat tubuh-tubuh yang terbaring kaku dari balik pintu.
Memasuki seperempat abad.

Allahu Akbar …
Terdengar suara takbir dari imam masjid bertanda akan masuknya waktu shalat. Mempercepat langkah kaki adalah hal yang di lakukan agar sampai tepat pada waktunya.
Ambulans, jeritan, tangisan secara bergantian memenuhi gendang telinga setiap insan yang berada disana.
Tubuhnya bergidik, air matanya mengucur deras melihat tubuh-tubuh yang terbaring kaku dari balik pintu.
Tidak ada yang berbeda. Mayat-mayat bergelimpangan. Shalat jenazah telah menjadi hal yang wajib.
Hingga pada akhirnya memasuki waktu ramadhan tepatnya pada hari jum’at, 17 Ramadhan 1437 H, waktu itu perempuan-perempuan mukmin diseret sesadisnya, direnggut kehormatannya di kala mengandung buah hati mereka, bocah-bocah tak berdosa dimasukkan ke dalam kantong sembelihan binatang.

Nyeri itu turut mengendap di setiap persendian, terbujur kaku, mati rasa. namun, berada di ambang ketaksadaran justru menguatkan untuk tetap bertahan meski kekuatan itu terletak pada titik tengah kelemahan, mungkin ini di namakan fase kematian.

***    
Allahu Akbar …
Allahu Akbar …
Asyhaduallailahaillalah …
Asyhaduallailahailalah …

Desing peluru dan dentum bom tak henti-hentinya memborbardir rumah yang berada di sekitarnya.
Keringat mengucur deras di tengah hujan batu yang tiada hentinya. Terlintas kejadian dalam benaknya waktu itu dia menyaksikan seorang bapak mengucapkan kata yang sama seperti yang terdengar tadi, yaitu :

Asyhaduallahilahaillalah …

Dengan mata berkaca-kaca dan darah yang mengalir dari tangan kanannya dia ingin mengucapkan kata itu, sebenarnya telah berkali-kali dia mendengarnya tapi berbeda dengan hari ini hatinya bergetar semakin bergetar mendengar kata itu.

“Asyh … Asyh …hadu … Asyahadu …“ lidahnya kelu.
Asyhaduannamuhammadarrosulullah …
Asyhaduannamuhammadarrosulullah …

Tangisan bayi, jeritan perempuan-perempuan tak berdosa, teriakan-teriakan bocah-bocah yang sedang mencari ibunya. Pemandangan miris.
Hayya alasholah ...
Hayya alasholah …

Dia tiba-tiba teringat dengan sosok Ibu yang ingin mengajarinya sholat  pada saat dia telah  berusia 7 tahun akan tetapi Ibu tidak bisa melawan kehendaknya sebab jika dilanggar maka, mata-mata Ayah kandungnya siap menghancurkan ibu, anak, beserta orang-orang di sekitarnya.

Hayyaalalfalah …
Hayyaalalfalah …
Assolatukhoirumminannaum …
Asslatukhoirumminannaum …

Darah berceceran, tangisan semakin membludak, manusia-manusia berlarian mencari Suami, Anak, Ayah, Ibu mereka.

Allahu Akbar …, Allahu Akbar …
Lailahaillalah …

Seakan ruhnya tiba-tiba menari-nari gemulai menyeringai lebar dengan lidah api yang terjulur dari mulutnya. Dia akan di lahirkan kembali nun jauh disana sementara jasad yang selama ini di topangnya tempat meletakkan tubuh ini berkhianat kesana kemari pada tubuh yang juga pengkhianat.
Melihat hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun kejadian yang memilukan, memiriskan, dan menyakitkan ini terbesit keinginan untuk kembali pada-Nya dan saat itu juga dia ingin menemui Imam untuk mendeklamasikan keislamannya.

***
Selesai sholat terlihat Imam masjid mencari puing-puing yang tersisa dari serangan brudal tersebut kemudian ditemukan Alqur’an yang masih utuh dengan keadaan terbuka, suatu kebetulan salah satu ayat dalam keadaan terbuka itu berbunyi:

Kemenangan sudah dekat bagi mereka yang tetap teguh
Mengetahui hal itu Sang Imam meyakini hal itu bukan suatu kebetulan. Kejadian ini adalah kuasa Allah. Ini adalah Rumah Allah apapun bisa terjadi atas kehendak-Nya.
Kejadian demi kejadian telah membuka matanya, apalagi setelah melihat Imam masjid menemukan Alqur’an dengan keadaan terbuka dan menemukan ayat yang berbunyi “ kemenangan sudah dekat bagi mereka yang tetap teguh” dia telah yakin akan agama ini, agama islam,  agama rahmatanlilalamin. Apalagi beberapa hari yang lalu dia melihat dengan mata kepala sendiri segerombolan pasukan yahudi berlari terbirit-birit tanpa adanya serangan dari siapapun. Konon terdengar kabar, mereka berlari karena melihat segerombolan berbaju putih menyerang mereka. Dia yakin segerombolan yang berbaju putih itu adalah malaikat.

Dengan keimanan yang memuncak dan kondisi fisik yang kian melemah, dari jarak beberapa meter diapun menemui Imam yang tengah mengusap air matanya.
“Assalamu ‘alaikum Pak … , saya ingin memeluk islam bisakah Bapak membimbing saya?”
“Ya …,  wa’alaikum mussalam, alhamdulillah …, dengan senang hati, nak”
“Namamu siapa?” tanyanya
“Nama saya Gilbert, pak”
“Kamu yakin ingin memeluk islam?”
“Yakin, Pak …”
“Nak, lukamu harus disembuhkan dulu, darahnya terus mengalir”
“Tidak usah Pak, tidak apa-apa. saya takut nyawa saya dicabut dalam keadaan belum memeluk islam”.
“Baik kalau begitu ikuti perkataan saya”
“Asyhaduallailahaillalah …”
“Asyh … Asyh ... hadu … allailahaillalah …”
“Wa asyhaduannamuhammadarrosulullah …”
“Waashy.. hadu ... hadu ... annamuhamm  …adarosulullah …”
Dor … dor … dor …

Darah mengucur deras, suasana masjid menjadi kacau, teriakan kembali terdengar dan memekakkan telinga. Dia telah kembali, kembali ke pangkuan-Nya ditangan Ayah kandungnya yang seorang yahudi.