Jumat, 13 Maret 2015

PANDANGAN DUNIA PENGARANG PADA CERPEN SRI SUMARAH DAN BAWUK


 Sinopsis Cerpen Sri Sumarah dan Bawuk



Sri Sumarah bercerita tentang seorang perempuan yang menjadi istri seorang guru yang dipanggil bu guru pijit karena dia punya keahlian memijit. Dia bernama asli Sri sumarah yang memiliki arti pasrah. Dia terbiasa pasrah menjalani hidup sejak kecil. Dia selalu di didik dengan cara jawa oleh neneknya, dia di ajarkan untuk selalu patuh terhadap suaminya apapun perintahnya. Dia di ibaratkan sebagai Subadra  istri arjuna yang paling setia dan selalu sabar meskipun suaminya menikah berkali-kali dengan perempuan lain. Hal ini pun sedikit banyak harus pula di alami Sri ketika suaminya di anjurkan oleh camat untuk menikah lagi bahkan pak camat pun telah menyiapkan calonnya.
Sri Sumarah mengisahkan jiwa seorang Jawa yang tumbuh dalam suatu lingkungan kebudayaan Jawa, menghadapi berbagai tantangan dan perubahan jaman, dengan lukisan-lukisan alam perasaan dan alam perkembangan sastra Indonesia. Nama tokoh ini berarti Sri yang menyerah, terserah, atau pasrah. Sikap ini diajarkan oleh neneknya dan ingin diajarkannya pada anaknya pula. Sikap sumarah diterjemahkan Sri sebagai kepasrahan ketika dijodohkan neneknya dengan Mas Marto, suaminya. Juga ketika ditinggal mati suaminya, ketika harus berjuang membesarkan Tun anaknya dan mendapatinya hamil di luar nikah, dan juga ketika menghadapi kematian Yos menantunya yang dibunuh dan Tun ditahan di penjara sebab terlibat gerakan PKI. Setelah peristiwa tragedi Yos dan Tun itu, Sri lah yang mengurus Ginuk, cucu satunya-satunya. Sikap sumarah tetap dijalankannya. Sikap itu mengiringinya selama berusaha memenuhi hidup. Ia memilih menjadi tukang pijit. Memijit dipilihnya sebagai pekerjaan setelah mendapat wisik saat bertirakat. Sejak itu ia memulai perjalanan hidup baru dengan modal memijit. Pekerjaan memijit Sri dinilai bagus oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia mendapat cukup uang untuk menghidupi dirinya, Tun, dan Ginuk. Pekerjaan ini dijalani Sri dengan biasa-biasa saja, meskipun ia harus banyak melakukan kontak fisik dengan laki-laki. Sikap bakti berperan di sini. Namun, hatinya sempat goyah ketika suatu hari harus memijit seorang pelanggan pria muda yang tampan dan gagah.
Sri menghadapi masalah setelah Tun dipenjara. Saat itu Sri benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Sawah dan rumah telah dikuasai BTI (Barisan Tani Indonesia, gerakan yang dinaungi PKI), perhiasan habis untuk mengangsur utang, dan persediaan uang semakin menipis. Apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di saat seperti seperti itu? Jawabannya terlihat dalam kutipan berikut. Uang? Menipis dan menipis. Dalam satu-dua minggu pasti habis. Lantas? Sri sumarah, sumarah. Seperti biasa dalam keadaan begitu dia akan ingat embah dan suaminya.Sri kemudian bertekad untuk tirakat, tidur kekadar di luar, malamnya. Reaksi Sri dalam menghadapi masalah itu adalah dengan sumarah. Ia tidak menyerah begitu saja, melainkan ia mengambil langkah untuk bertirakat. Caranya dengan tidur sekadarnya dan menunggu datangnya wisik. Wisik adalah pitoedoeh (wewarah) atau gaib, artinya petunjuk gaib. Wisik itu diperoleh Sri kemudian, dan ditafsirkannya sebagai petunjuk bahwa ia harus bekerja sebagai tukang pijit demi melanjutnya hidupnya.
Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang 'onder,' priyayi Jawa. Sejak kecil ia telah menumbuhkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda dengan keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek (penari), dalam suatu pesta di Kabupaten. Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis Partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari satu kota ke kota lain, untuk mengikuti suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara. Akhirnya, bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Anak-anaknya butuh kehidupan yang layak dan bersekolah dengan tenang. Di rumah ibunya, Bawuk disambut oleh keempat kakak beserta ipar-iparnya yang telah mapan: seorang brigjen, dosen di ITB, dirjen di salah satu departemen, dan seorang dosen lagi di Gadjah Mada. Mereka terus membujuk Bawuk agar tetap tinggal di kota itu. Namun Bawuk telah berketetapan hati untuk terus mencari suaminya. Dengan tegar ia menjelaskan bahwa sebagai isteri, ia tetap harus menemui suaminya. Hanya saja kedua anaknya dititipkan kepada ibunya. Semua kakaknya sulit menerima keputusan itu. Hanya sang ibu yang dapat memenuhi keputusan Bawuk. Cerita ditutup dengan suara sayup anak-anak Bawuk yang sedang belajar mengaji. Bu Suryo membaca dalam surat kabar, bahwa G 30 S/PKI telah ditumpas dan Hassan, menantunya ialah salah seorang yang diberitakan tertembak mati. Tapi Bawuk tak ketahuan rimbanya. Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra .
Sosiologi berasal dari akar kata sosio(yunani)(Socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi(logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan.(Kutha Ratna, 2003 :1). Edgar Allan Poe (Jassin, 1961 : 72 dalam Teori Pengkajian Fiksi Nurgiyantoro) Sastrawan kenamaan itu mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk , kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.
Dalam pendekatan Sosiologi sastra juga mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan  pendekatan structuralisme genetik yang melihat hubungan karya sastra dengan realitas sosial atau masyarakat. tara Artinya sastra menyajikan kehidupan yang  sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Ada persamaan antara sosiologi dengan sastra sehingga teks sastra dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi, strukosiologi merupakan telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan telaah tentang lembaga dan proses sosial. Segala masalah perekonomian, eagamaan, dan politik merupakan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosial , proses pembudidayaan yang menempatkan anggoa masyarakat di tempatnya  masing-masing.
               Sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sehingga sosiologi dan sastra mendeskripsikan masalah yang sama. Novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial: hubungan manusia dengan keluarganya, lingkungannnya, politik, Negara, dan sebagainya. Sebagai dokumen, novel berurusan dengan struktur sosial, ekonomi dan politik yang juga merupakan urusan sosiologi. Pengarang memiliki pandangan dalam menyikapi fakta sosial pada masyarakatnya. Pandangan pengarang dalam sebuah novel terlihat dalam hubungan antara tokoh dengan tokoh lain maupun antara tokoh dengan lingkungannya. Sehingga karya sastra harus di pandang secara menyeluruh.
             Dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk terdapat pandangan Umar Kayam tentang tokoh utama pada novel tersebut.  Inti dari cerpen masing-masing menceritakan tentang kisah dari seorang perempuan yang keluarganya sama-sama terlibat dalam organisasi PKI, pengarang bercerita pada zaman G 30 S/PKI. Pandangan dunia pengarang yang tertuang dalam  novel ini patut diketahui, sejauh mana gambarannya. Di samping iti factor sosial budaya dan latar belakang (genetika) apakah yang membuat pengarang menelurkan novel ini.

Strukturalisme Genetik Goldmann 
          Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Prancis. Teori ini dikemukakannya pada tahun 1956 dengan terbitnya  buku The Hidden God : a study of Tragic Vision  in the Penses of Pascal and the tragedies of Racine. Teori dan pendekatan yang dimunculkannya ini dikembangkan sebagai sintesis atas pemikiran jean piaget, George Lukacs, dan Karl Marx.
         Goldmann menyebut teorinya sebagai strukturalisme genetik Artinya ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur akan tetapi struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk sejarah yang terus berlangsung, proses strukturisasi dan dekstrusasi yang  hidup dan dihayati oleh masyarakat asal teks sastra yang bersangkutan(Faruk, 1999:12)
        Untuk menopang  teorinya tersebut, Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk structuralisme  genetik.  Kategori-kategori tersebut adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman, dan penjelasan(Faruk, 1999:12).
a.      Fakta Kemanusiaan
      Strukturalisme pertama dari strukturalisme genetk adalah fakta kemanusiaan. Fakta kemanusiaan adalah hasil dari prilaku manusia yang dapat dengan jelas dipahami, atau dengan kata lain segala hasil aktivitas manusia atau prilaku manusia baik yang verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan sastra(Faruk, 1999:12).Goldmann mengatakan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai upaya manusia mengubah dunia, dimana tujuan dari aktivitas-aktivitas tersebut adalah untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik antara diri manusiaa(sebagai subjek) dan dunia. Perilaku manusia di atas menjadi bermakna karena membuat mereka memperbaiki keseimbangannya.
b.      Subjek Kolektif
      Pada kenyataannya dalam masyarakat juga terdapat banyak fakta kemanusiaan. Fakta kemanusiaan adalah semua aktivitas manusia sebagai perwujudan makhluk sosial. Terdapat hubungan antara subje kolektif dengan fakta kemanusiaan. Tentang hal ini Goldmann (dalam Faruk, 1999:12-13) menyatakan bahwa fakta kemanusiaan memiliki arti karena merupakn respon dari subjek kolektif atau individual pembangun syary percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi subjek itu. Dengan kata lain manusia merupakan usaha manusia mencpai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya.
c.       Pandangan Dunia( World View)
      Pandangan dunia adalh sebuah perspektif yang koheren dan terpadu mengenai manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Pandangan dunia adalah fakta historis dan sosial, yang merupakan keturunan cara berpikir, perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu. Karena merupakan fakta sosial yang berasal dari interaksi antara subjek kolektif dengan sekitarnya. Pandangan dunia tidak muncul dengan tiba-tiba. Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru(Goldmann dalam Faruk, 1999:16).
     “ Pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi dan perasaan-perasaan yang meghubungkan secara bersama-sama .anggota kelompok sosial tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompok sosial lainnya.  hasil Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek yang memilikinnya(Goldmann dalam Faruk,1999:15). Tujuan pandangan dunia digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara ideology pengarang dan peristiwa sejarah yang melatarbelakangi lahirnya Novel.
d.      Struktur Karya Sastra
      Karya sastra yang besar merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif atau masyarakat. karya sastra memiliki struktur yang koheren dan terpadu. Konsep struktur karya sastra dalam teori strukturralisme genetic berbeda dengan konsep struktur karya sastra otonom. Menurut Goldmann, karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner, dimana pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner pula. Hal itu juga yang menurut Goldmann membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual sedangkan sosiologi mengacu pada empiritas (Faruk, 1999:17).
      Dari pernyataan di atas, dapat kita simpulkan bahwa Goldmann ternyata memfokuskan perhatiannya pada hubungan antar tokoh dan antara tokoh dengan lingkungannya. Dalam eseinya yang berjudul The Sociology of literature: Status and Problem of Method, Goldmann mengatakan bahwa hampir seluruh karya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, dalam rangka menguak struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan karya sastra (Faruk, 1999 :17).
e.       Dialektika Pemahaman-Pemahaman
     Dalam perspektif strukturalisme genetik, karya sastra merupakan sebuah struktur koheren yang memiliki makna. Dalam memahami makna itu Goldmann mengembangkan metode dialektik yang membuatnyaberhubungan denga masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya megenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan. Untuk itu metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep yaitu “keseluruhan-bagian” dan pemahaman-penjelasan”(Faruk, 1999 : 20).
    Dialektik memandang bahwa tidak ada titik awal yang secara mutlak sahih dan tak ada persoalan yang secara mutlak pasti terpecahkan. Setiap gagasan individual akan berarti jika ditempatkan dalam keseluruhan. Demikian juga keseluruhan akan dapat dipahami dengan menggunakan fakta-fakta parsial yang terus bertambah. Dengan kata lain, keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian, dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan(Faruk, 1999:20).
    Sri Sumarah adalah sebuah cerita pendek yang cukup panjang untuk ukuran cerita pendek Indonesia. Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Sri Sumarah sebagai tokoh utama (sesuai dengan judul) yang hidup dalam dua wilayah dunia politik sebagai latar sosial cerita, yang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Wilayah pertama adalah dunia politik masa Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno dan wilayah kedua adalah dunia politik Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Yang paling menarik dari cerpen ini adalah bagaimana sebuah peralihan kekuasaan yang masa itu sangat ‘hiruk pikuk’, mempengaruhi perjalanan hidup Sri Sumarah.
      Semasa mudanya Sri adalah seorang pelajar tamatan SKP dari kota J. Dia anak yatim piatu yang dibesarkan embahnya dalam kekentalan suasana budaya Jawa dengan penuh kasih sayang. Peristiwa cerita ini mengacu pada tahun 60-an ketika pergolakan politik sangat dinamis. Sri dinikahkan oleh embahnya kepada seorang guru (priyayi) bernama Sumarto yang kemudian sesuai dengan adat Jawa berganti nama menjadi Marto Kusumo, dan Sri pun mendapat nama baru yaitu Bu Marto. Sebelum menikah Sri banyak diberi wejangan oleh embahnya terutama tentang  bagaimana menjadi perempuan Jawa.
Dalam hal ini perempuan harus seperti Kunti (ibu para Pandawa) yang rela berkorban untuk kebahagiaan anak-anaknya, dan harus seperti Sembadra (istri Arjuna) ketika menjadi istri yang harus berbakti kepada suami, membahagiakannya secara lahir dan batin. Modelnya, Sembadra alias Lara Ireng, adik Kresna dan Baladewa, istri Arjuna, laki-laki dari segala laki-laki. Dialah istri yang sejati. Patuh, sabar, mengerti akan kelemahan suami, mengagumi akan kekuatannya (Kayam, 2003:187).
Sri oleh embahnya diajak ke dunia wayang yang merupakan model bagi orang-orang Jawa. ideologi Embah adalah tradisionalisme yang memegang kuat falsafah Jawa, dia juga seorang feodalisme yang menguasai tanah sebagai sumber penghidupannya. Ideologi kesadarannya, hidup dengan berpedoman pada falsafah Jawa dan fokus utamanya yaitu membahagiakan Sri cucunya. Seperti terlihat dalam kutipan berikut :
“Nduk, memang sudah aku niati untuk menyekolahkan kau sampai tinggi. Itu sudah janjiku kepada orangtuamu yang—oh, Allah, kok ngenes betul lelakonmu—sudah meninggal. Aku, embahmu, nDuk, belum akan merasa selesai sebelum aku melihat engkau selesai sekolah di kota, kawin, dan sebelum aku bisa memangku cucuku.” (Kayam, 2003:185)

Kutipan di atas memperlihatkan, betapa embah itu sangat menyayangi cucunya.
Apapun yang terjadi cucunya harus sekolah yang tinggi dan dia belum merasa tuntas jika usaha itu belum menampakkan hasilnya. Untuk merealisasikan niatnya itu Embah menganalogikan dirinya sebagai Kunti (ibu para Pandawa) yang rela berkorban demi kebahagiaan anak-anaknya (Kayam,2003:186). Ini menunjukkan bahwa ideologi tradisionalisme (falsafah Jawa) sangat kuat dalam diri Embah.

Dalam mewujudkan ideologi kesadarannya, membahagiakan cucunya dan hidup
dalam falsafah Jawa, embah memberi wejangan kepada Sri. Mulai dari bagaimana menghadapi dan memanjakan suami di ranjang sampai ke cara memuaskannya dalam
urusan dapur. Pendeknya bagaimana mendukung suami agar betah di rumah dan giat dalam bekerja sehingga suami betul-betul merasa menjadi lelaki yang sangat lelaki, yang dimanja dan dinomorsatukan oleh istrinya. Seorang istri harus tahu keinginan-keinginan suami, seorang istri harus tahu kekuatan dan kelemahan suaminya, yang pada gilirannya hal itu dipergunakan untuk memuaskan suami. Sebagai seorang perempuan Jawa harus siap dengan dua hal, yaitu berita kematian suaminya dan berita perkawinan suami. Hal ini seperti yang dirasakan Sembadra, ketika bersuamikan Arjuna yang ksatria dan tukang kawin.Dapat dikatakan Ideologi Sri adalah tradisionalisme dengan falsafah Jawanya sebagaimana yang diajarkan embahnya. Di sini telah terjadi penyebaran yang dilakukan oleh Embah kepada Sri melalui common sense, yaitu penyebaran melalui orang awam sehingga hal itu diterimanya tanpa adanya pikiran untuk mengkritisinya.

ideologis dan elemen kesadarannya yang tradisional tetap merupakan kekuatan Sri, dia ngelakoni untuk mencari wisik dengan tidur di halaman rumah. Pada akhirnya dia mendapatkan wisik itu, Sri bermimpi bertemu dengan suaminya yang meminta dipijit. Sri menafsirkan mimpi itu, dia memutuskan untuk menjadi tukang pijit. Usahanya cukup berhasil, dia mempunyai langganan cukup banyak dan dari hasil kerjanya itu Sri dapat mencukupi hidupnya bersama Ginuk.
Tun, anak tunggal Sri, dia seorang tamatan SMP dan gagal melanjutkan sekolahnya karena menikah. Sebetulnya Tun bisa saja melanjutkan sekolahnya tetapi dia telah memilih untuk aktif di organisasi Gerwani. idiologi Tun adalah komunis yang berusaha untuk membantu rakyat kecil dalam memperbaiki tingkat kehidupan, dalam memperbaiki kelas. idiologi Tun didukung oleh elemen solidaritas-identitasnya dengan menjadi anggota Gerwani. Elemen solidaritas-identitas ini mampu mengikat Tun dan berkiprah di dunia sosialnya. Gerwani adalah organisasi wanita untuk PKI, dengan demikian Tun mempunyai elemen kesadaran untuk menolak paham lain dan mendukung faham komunis yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup rakyat
miskin.
Yos adalah suami Tun, menantunya Sri. Dia seorang tokoh organisasi CGMI  yang telah membawa Tun aktif di Gerwani. Sebagai tokoh CGMI ideologinya adalah komunis, yaitu paham sosialis yang menghendaki adanya kesamaan kelas. Elemen kesadaran yang ada pada Yos, adalah mengusahakan atau memperjuangkan kesamaan kelas, menaikkan harkat rakyat miskin dan menentang para penguasa kaya yang mendominasi Untuk merealisasikan ideologinya Yos didukung oleh elemen solidaritas identitasnya dengan menjadi menjadi tokoh CGMI. Elemen kebebasannya, Yos merealisasikan ideologinya bersama kawan-kawan seideologinya dengan aktif menyebarkan gagasan-gagasannya lewat diskusi, ceramah, dan kesenian. Dalam hal ini elemen kebebasan komunis adalah membebaskan rakyat tertindas dan menentang
penguasa iya Saksi hidup atas peristiwa itu tentu saja mempunyai persfektif yang berbeda, tidak semuanya mengatakan iya atas apa yang diopsikan oleh Orde Baru, bahwa G 30 S PKI yang didalangi oleh PKI adalah peristiwa yang sangat kejam dan tak termaafkan. Karena itu PKI dan ormas-ormas binaannya dilarang di Indonesia, termasuk para pelaku dan juga yang dekat dengannya terutama keluarganya dipinggirkan dari panggung politik Indonesia, dari anggota warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Setidaknya pasti ada penolakan di dalam hatinya jika memang dirinya tidak setuju dengan opsi itu. Dan Umar Kayam adalah segelintir orang yang merasa kebingungan atas apa yang terjadi pada peristiwa kelam itu. Di usianya yang relatif muda dirinya dipercaya oleh pemerintah Orde Baru untuk memimpin sebuah lembaga nasional, Direktur Jendral Radio, Televisi, dan Film. Seperti yang diungkapkannya dalam tulisannya, dia merasa kebingungan atas peristiwa besar yang terjadi saat itu. Terutama masalah pembersihan orde yang telah lapuk yang harus diganti dengan orde yang baru. Di situ dia bertanya tentang korban yang harus menjadi korban dan korban yang seharusnya tidak menjadi korban (Kayam, 1983:107--109). Dan usaha pemahaman atas peristiwa itu Umar Kayam membuat beberapa cerpen, yakni Bawuk.
Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang 'onder,' priyayi Jawa. Sejak kecil ia telah menumbuhkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda dengan keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek (penari), dalam suatu pesta di Kabupaten. Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis Partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari satu kota ke kota lain, untuk mengikuti suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara. Akhirnya, bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Disini ideologi bawuk yaitu ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk tetap bersama suaminya, ia tetap setia kepada suaminya.
Melalui kedua cerpennya Umar Kayam menggambarkan bagaimana seharusnya pemerintah Orde baru mengatasi peristiwa pasca G30S PKI. Yos sebagai tokoh organisasi mungkin memang sudah seharusnya dihukum mati karena telah mempengaruhi dan mengajak rakyat untuk melakukan pemberontakan. Tun, yang kualitasnya di bawah Yos, cukup dipenjara saja tidak perlu dihukum mati atau ditembak mati. Pak Camat sebagai simpatisan, cukup dikeluarkan dari pekerjaannya atau dipenjarakan karena dianggap tidak setia terhadap pemerintah, tidak perlu ditembak mati. Adapun Sri, yang tidak mengerti apa-apa tentang peristiwa ini, tidak usah dihukum atau dipinggirkan dari panggung kehidupan sebagai warga negara meski anaknya terlibat. Sedangkan Pada cerpen Bawuk, dimana suaminya yang bernama Hasan terlibat dalam G 30 S PKI. Disini Bawuk sangat tegar dan tetap mengikuti langkah sumainya kemanapun suaminya pergi. Dan belum adanya tindakan pada pemerintah untuk mengatasi peristiwa G 30 S PKI. Pada kedua cerpen terdapat persamaan yaitu Msing-masing salah satu anggota keluarga terlibat dalam G 30 S PKI dan masing-masing merasakan akibat dari perbuatan salah satu anggota keluarga. Dalam G30S PKI. Dalam hal ini Umar Kayam menegosiasikan ideologi.  ideologi komunis dengan kategori dominan harus dilenyapkan atau ditembak mati.
         
DAFTAR PUSTAKA

Kayam Umar. 1975.Sri Sumarah dan Bawuk. Jakarta.Pustaka Jaya.

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Ratna, Nyoman Kutha.2002. Paradigma Sosiologi Sastra.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Nurgiyantoro. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univesity Press

Sumber Gambar : buletinmitsal.com

2 komentar: